Ia menilai suasana belajar di Sekolah Rakyat berbeda karena lebih kondusif. Ia bahkan aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti Paskibra, Palang Merah Remaja (PMR), dan olahraga judo.
Pelajaran informatika menjadi favoritnya, sementara olahraga judo tetap menjadi bidang yang ia tekuni.
Dari sini, ia membangun cita-cita menjadi atlet sekaligus melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Pertahanan (Unhan).
“Pengennya masuk Unhan. Mama minta di situ, jadi saya ngikutin aja karena mama pasti pilih yang terbaik,” ujarnya.
Bagi Andra, setiap langkah yang ia tempuh adalah bentuk baktinya kepada sang ibu. Ia teringat masa-masa ketika orang lain meremehkannya.
Namun ibunya selalu mendoakan dan meyakinkan bahwa ia mampu. Kesetiaan dukungan itu membuat Andra bertekad untuk selalu membanggakan ibunya.
Kehidupan di Sekolah Rakyat juga membebaskan dirinya dari beban biaya. Menurutnya, sistem di sekolah ini lebih sederhana dibanding sekolah lain yang masih memerlukan biaya tambahan.
Pendaftaran pun lebih mudah dan terbuka. Dari ruang kelas, lapangan olahraga, hingga kamar asrama, semua menjadi bagian perjalanan yang membentuk dirinya menjadi pribadi mandiri.
Andra percaya, mimpi-mimpinya kini semakin dekat. Dari perjuangan seorang anak ibu tunggal yang hidup tanpa ayah, ia membuktikan bahwa pendidikan mampu membuka jalan.
Sekolah Rakyat menjadi pintu harapan baru, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi ribuan anak lain yang ingin menggapai masa depan lebih baik.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!