news

Gawai Bisa Ganggu Fisik dan Mental Anak, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Minta Kontrol Orang Tua dan Game Edukatif

Selasa, 5 Agustus 2025 | 19:00 WIB
Abdul Mu'ti mengingatkan bahaya gawai bagi anak-anak. (Instagram @abe_mukti)

SketsaNusantara.id - Di era digital saat ini, anak-anak semakin akrab dengan gawai dan berbagai aplikasi hiburan.

Gawai kini tidak hanya jadi alat bantu belajar, tetapi juga jadi sarana bermain, bersosialisasi, bahkan belajar hal baru.

Namun di balik manfaatnya, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat membawa dampak serius bagi perkembangan anak.

Baca Juga: Isi Pidato Hardiknas 2 Mei 2025, Berikut Ini Poin-poin yang Dibahas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan gawai oleh anak-anak.

Ia menyoroti sejumlah risiko yang kini semakin mengkhawatirkan, mulai dari paparan konten kekerasan hingga keberadaan unsur judi di dalam game online.

“Penggunaan gawai oleh anak-anak ini semaksimal mungkin dibatasi, kontrol orang tua sangat penting agar mereka tidak menggunakan media ini secara berlebihan,” ujar Abdul Mu’ti kepada awak media di daerah Gambir, Jakarta Pusat pada Senin, 4 Agustus 2025.

Baca Juga: Gibran Buka Layanan Lapor Mas Wapres, Netizen Laporkan Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Pak Menteri Terpantau...

Menurutnya, anak-anak yang terlalu sering bermain gawai berisiko mengalami penurunan aktivitas fisik. Hal ini berdampak pada kebiasaan hidup mereka secara umum.

Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan tubuh anak menjadi kurang bugar, bahkan mempengaruhi kondisi psikologis mereka.

“Itu juga merusak kebiasaan fisik mereka karena kurang beraktivitas, kalau kebanyakan main game itu jadi mager juga,” ucap Mu’ti.

Baca Juga: Bakal Jadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prabowo Gibran, Riwayat Pendidikan Abdul Mu'ti Jadi Sorotan, Rupanya Lulusan...

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut bisa berujung pada berkurangnya fungsi motorik anak.

Tidak hanya itu, peredaran darah pun bisa menjadi tidak lancar dan anak menjadi lebih mudah emosional. Mu’ti menilai bahwa hal ini perlu menjadi perhatian bersama antara orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar.

Halaman:

Tags

Terkini