SketsaNusantara.id - Kebijakan larangan study tour yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi perbincangan publik. Langkah ini menuai pro dan kontra, terutama di kalangan orang tua siswa dan pendidik.
Pejabat yang akrab disapa KDM itu memaparkan alasan kebijakan tersebut dalam sebuah podcast bersama Deddy Corbuzier yang diunggah pada Senin, 4 Agustus 2025.
Ia menceritakan pengalamannya saat menemui orang tua siswa yang mengeluhkan mahalnya biaya study tour.
Baca Juga: Timothy Ronald akan Dibawa ke Barak Militer, Dedi Mulyadi Tanggapi Aduan Deddy Corbuzier
Menurut KDM, kegiatan study tour tidak lagi menjadi bagian dari proses edukatif.
Ia menyebut, banyak kegiatan tersebut hanya sebatas jalan-jalan ke tempat wisata tanpa nilai pembelajaran yang jelas. Beban finansial menjadi sorotan utama dalam keputusannya.
“Banyak orang yang hari ini bertemu saya, pasti ceritanya ‘Kenapa ibu kelihatan sangat susah, kenapa sedih ketemu saya,’” ujar Dedi Mulyadi dalam podcast itu.
Ia menirukan curhatan seorang ibu yang mengeluhkan total biaya study tour anaknya yang cukup besar.
“‘Anak saya itu harus study tour, ongkosnya Rp2,5 juta terus nanti bekal Rp1,5 juta, total Rp4 juta,’” katanya menirukan keluhan tersebut, lalu menambahkan, “Gede lho itu.”
Biaya sebesar itu, kata KDM, bahkan membuat sebagian orang tua terpaksa meminjam uang. Ia menyinggung praktik pinjaman dari “Bank Emok” yang marak terjadi di desa-desa.
“Bank Emok itu adalah bank yang ada di desa, rentenir, terorganisir dengan baik, terkelola dengan baik, tidak (legal) tapi berkeliaran bebas,” jelasnya pada Deddy Corbuzier.
Menurutnya, keberadaan bank semacam itu tidak hanya membebani warga, tetapi juga merugikan negara karena tidak membayar pajak dan menarik bunga tinggi.
Dalam diskusi tersebut, KDM menekankan bahwa kegiatan study tour yang seharusnya bersifat edukatif malah bergeser menjadi sekadar rekreasi biasa.