Pihak keluarga mendesak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini, apalagi ponsel Arya belum ditemukan hingga saat ini, mengingat keluarga sempat menghubungi korban terakhir sebelum meninggal.
Bahkan keluarga sudah mempersiapkan pengacara untuk mengusut tuntas kasus ini.
Keluarga Arya Daru juga menyebut tak ada yang aneh jika korban pernah melakukan konsultasi ke lembaga bantuan psikologi dan hal ini tidak bisa menjadi alasan utama korban untuk melakukan bunuh diri.
“Namanya orang yang bekerja juga pasti ada beban, dan konsultasi terkait (ke lembaga psikologi) itu saya tidak bisa berkomentar karena mungkin ranah pribadi almarhum,” sambung Meta Bagus.
"Dan terkait adanya obat-obatan yang ditemukan di tas Arya itu, ya biasa saja. Namanya orang sakit demam misalnya minum Paracematamol, flu ya minum obat batuk, ya sekedar itu saja, kan masih wajar," tuturnya.
Kakak ipar Arya Daru juga menyebut Diplomat muda Kemlu itu sebagai sosok yang terbuka dan sering berdiskusi dengan sang istri jika ingin mengambil keputusan terkait pekerjaannya.
Kasus kematian Arya Daru Pangayuan ini masih terus menjadi sorotan publik dan meninggalkan tanda tanya besar, meski polisi sudah mengungkap semua bukti dan hasil forensik pada publik.
Publik menilai kematian Arya Daru dianggap "tidak wajar" apalagi jika korban sampai nekat mengakhiri hidupnya dengan cara ekstrem hingga menutup rapat kepalanya sendiri sampai mati lemas.
Meski sudah dinyatakan tuntas, kepolisian masih membuka peluang untuk mendalami kembali penyebab kematian Arya jika ada bukti baru dari pihak keluarga.
“Kami tetap akan menerima masukan jika ada informasi, termasuk dari pihak keluarga untuk mengusut (penyebab kematian) dalam kasus ini,” pungkas Kombes Wira.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini