SketsaNusantara.id - Pemerintah Kabupaten Jember terus mengenalkan potensi-potensinya, salah satunya batik khas Kecamatan Ambulu yang memiliki motif yang unik.
Bupati Jember Muhammad Fawait bersama dengan Ghyta Eka Puspita, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jember, serta Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sartini, meninjau perkembangan potensi ekonomi kreatif serta produk unggulan dari desa.
Pada kesempatan itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sartini menyatakan bahwa Batik Jember memiliki keunikan yang membedakannya dari batik dari wilayah lain.
“Keunikan Batik Jember terlihat dari latar yang seragam, dengan motif dasar berupa perata-perata dan daun tengah," paparnya, Minggu, 27 Juli 2025.
“Saat ini, juga telah diperkenalkan berbagai motif lokal seperti kopi dan cokelat. Namun, di Rumah Batik Rezti, terdapat satu motif khas lain bernama watu ulo, yang masih jarang dikerjakan oleh pembatik lain di Jember,” ungkapnya.
Sartini juga memberikan penghargaan kepada para pembatik di Ambulu, yang tidak hanya aktif dalam berkarya, tetapi juga telah membentuk asosiasi dan koperasi untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Pemkab Jember Hibahkan 47 Hektare Tanah ke Polda Jatim
“Pembatik di Ambulu ini sangat mengesankan. Mereka sudah tergabung dalam koperasi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan baku seperti kain, malam, dan pewarna secara langsung melalui koperasi. Hal ini sangat memudahkan mereka tanpa harus pergi berbelanja ke luar daerah seperti Yogyakarta,” tambah Sartini.
Selama kunjungan tersebut, Sartini juga menyampaikan pesan kepada seluruh warga Jember untuk mencintai dan membeli produk batik lokal.
“Jika bukan kita yang menggunakan dan menghargai batik Jember, lalu siapa lagi? Ini adalah warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai estetik, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi lokal. Mari kita cintai dan dukung produk batik Jember,” tegasnya.
Bupati Jember mengharapkan agar potensi batik di Kecamatan Ambulu, khususnya di Rumah Batik Rezti, dapat dijadikan teladan bagi desa-desa lain dalam mengembangkan ekonomi yang berbasis pada budaya dan kearifan lokal.***