Masih dalam video tersebut, @ferlisfelix memberikan nasihat keras kepada para calon pekerja migran agar mempersiapkan mental dan mampu menyesuaikan diri dengan budaya negara tujuan.
“Kalian harus siap mental menerima budaya luar. Kalian mencari uang di sana, tinggalin dulu budaya Indonesia yang jelek,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa hanya budaya positif dari Indonesia yang seharusnya dibawa, seperti keramahan dan sopan santun. Sementara hal-hal yang merugikan dan tidak sesuai dengan norma setempat, sebaiknya ditinggalkan demi menjaga nama baik pribadi dan bangsa.
Video tersebut menuai berbagai tanggapan dari warganet. Banyak yang setuju dan turut membagikan pengalaman serupa. Salah satu komentar yang viral menyebutkan bahwa seorang HRD di sebuah perusahaan memecat karyawan yang terlibat dalam organisasi silat karena sering bolos kerja untuk mengikuti kegiatan silat.
“Langsung saja dipecat, belum tidak diterima karena saya pecat,” tulis seorang pengguna bernama Mas mas jawa, yang mengaku HRD. Ia menyampaikan bahwa hingga ibu dari karyawan tersebut datang meminta maaf dan menangis karena anaknya harus berurusan dengan polisi.
Komentar tersebut telah disukai lebih dari 3.500 pengguna dan menjadi bagian dari diskusi hangat terkait batasan antara pelestarian budaya dan adaptasi dalam konteks kerja di luar negeri.
Selain soal silat, unggahan itu juga menyinggung LPK yang menjadi perantara keberangkatan pekerja ke luar negeri.
Ferlis mengaku enggan menyebut nama LPK-nya, namun menegaskan bahwa lembaga tersebut mengembalikan 80 persen dari biaya yang telah dibayarkan, serta hanya memberikan paspor kepada saudaranya.
Hal ini mengindikasikan adanya standar ketat dari pihak Jepang yang tidak hanya melihat kompetensi kerja, tapi juga latar belakang sosial dan perilaku calon pekerja migran.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!