SketsaNusantara.id - Beras menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, akhir-akhir ini marak peredaran beras oplosan yang menimbulkan kekhawatiran publik.
Kementerian Pertanian beserta Satgas Pangan Polri, belum lama ini memeriksa 212 merek beras yang dianggap tidak memenuhi standar mutu dan takaran.
Hal ini dianggap merugikan masyarakat, bukan hanya secara finansial, tetapi juga berdampak pada kesehatan tubuh jika dikonsumsi.
Lantas, apa itu beras oplosan dan bagaimana ciri-cirinya? Apa saja dampak beras oplosan bagi kesehatan dan bagaimana memilih beras dengan kualitas bagus?
Dilasir SketsaNusantara.id dari situs resmi Kementerian Pertanian, pemerintah telah menetapkan standar mutu beras yang diatur dalam SNI 6128:2020.
Beras yang memenuhi standar mutu, memiliki kadar air maksimal 14%, terbebas dari benda asing seperti gabah atau pasir dan juga harus bebas dari bahan kimia berbahaya.
Beras oplosan yang belakangan ini marak beredar di pasaran adalah beras yang sengaja dimanipulasi untuk menipu konsumen.
Perusahaan yang tidak jujur biasanya mengoplos beras dengan mencampur beras berkualitas rendah dengan beras premium, memalsukan label kemasan (beras biasa dilabeli premium), hingga mengurangi takaran berat.
Misalnya, kemasan beras yang diklaim berisi 5 kg ternyata hanya berisi beras dengan berat bersih 4,5 kg. Hal ini tentu merugikan konsumen hingga puluhan ribu rupiah.
Selain itu, beras biasa sering diberi label sebagai beras premium atau medium untuk menaikkan harga jual.
Konsumen membayar dengan selisih harga mencapai Rp 3.000-5.000 per kg, alih-alih mendapat beras kualitas premiun, namun nyatanya beras dalam kemasan ternyata kualitas rendah.
Mirisnya, Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan menemukan beras oplosan yang dikeluarkan beberapa perusahaan besar, seperti Wilmar Group (merek Sania, Sovia, Fortune) hingga PT Food Station Tjipinang Jaya, yang selama ini produknya dikenal bagus oleh masyarakat.