SketsaNusantara.id - Pasar Tanjung sebagai salah satu pusat ekonomi tradisional di Jember menyimpan potensi dan masalah lingkungan yang tak bisa diabaikan.
Di tengah musim hujan bulan Juli, lingkungan yang kotor tentu akan menyebabkan penyakit. Menyoroti pasar Tanjung yang memiliki masalah yang sama dari tahun ke tahun yakni masalah sampah.
Sampah plastik seperti kantong kresek, kemasan makanan, dan botol terus menumpuk akibat kurangnya pengelolaan yang memadai.
Dilansir SketsaNusantara.id dari riset Permasalahan Sampah dan Sistem Pengelolaan sampah Pasar Tanjung Jember, Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora, Mastufatul et al. tahun 2023, pengelolaan sampah di Pasar Tanjung dinilai belum efektif.
Tumpukan sampah kerap berserakan, tanpa pemilahan antara organik dan anorganik, serta tidak ada petugas khusus yang bertugas mengendalikan kebersihan pasar. Akibatnya, lingkungan pasar menjadi kurang sehat dan estetika terganggu.
Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggencarkan berbagai langkah inovatif.
Baca Juga: Perjalanan Sukses UMKM Teh Bogor yang Tembus Pasar Dunia Berkat BRI
Sebagai upaya pengelolaan sampah terpadu, DLH dan Pemkab Jember bekerja sama dengan Green Ecology untuk memproduksi paving dari limbah plastik dan mengolah sampah organik menjadi energi ramah lingkungan.
Langkah ini menunjukkan pergeseran dari sekadar pengumpulan menuju upcycling dan pemanfaatan kembali sampah plastik.
Di tingkat pedagang, perubahan perilaku juga mulai terlihat. Tas kain kini mulai digunakan oleh beberapa pedagang di Pasar Tanjung sebagai upaya mengurangi pemakaian plastik.
Ada pula yang mendorong konsumen untuk membawa wadah sendiri saat berbelanja. Langkah sederhana ini memberi sinyal positif bahwa kesadaran lingkungan mulai tumbuh, meski belum merata.
Namun, tantangan masih besar. Tidak semua pedagang konsisten memilah sampah. Fasilitas tempat sampah juga masih terbatas dan belum ada sistem pengawasan harian yang terintegrasi.