SketsaNusantara.id – Beragam bencana hidrometeorologi basah mulai mencuat di berbagai penjuru Indonesia saat memasuki awal Juli 2025.
Curah hujan tinggi yang datang di luar pola musim normal menyebabkan banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang di sejumlah wilayah.
Kondisi ini menjadi alarm penting bahwa perubahan iklim semakin nyata dan berdampak langsung pada kestabilan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Namun, di tengah curah hujan tinggi. Dilansir SketsaNusantara.id, BNPB mencatat bahwa dalam kurun 6 hingga 7 Juli 2025, kejadian hidrometeorologi, khususnya karhutla, menjadi bencana yang paling menonjol.
Salah satu kejadian kebakaran dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, sejak malam Sabtu, 5 Juli.
Titik api ditemukan di tiga kecamatan yaitu Arongan Lambalek, Johan Pahlawan, dan Woyla Barat, meliputi lima gampong.
Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 9 hektar. Penyebab kebakaran masih diselidiki oleh pihak berwenang, namun hingga kini tidak ada korban jiwa dilaporkan.
BPBD Aceh Barat melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) telah menerjunkan sejumlah armada pemadam, termasuk kendaraan D-max, Armada 010, dan mesin kohle.
Namun, upaya di lapangan terhambat oleh akses yang sulit dijangkau dan minimnya ketersediaan air.
Upaya pemadaman juga melibatkan unsur TNI/Polri, Damkar, serta masyarakat setempat, menciptakan sinergi lintas sektor.
Hingga Minggu malam 6 Juli, titik api di Karang Hampa dilaporkan hampir padam 90%, sedangkan di Lapang dan Suak Raya, proses pemadaman masih berlangsung intensif.