SketsaNusantara.id - Pacu Jalur kini makin mendunia berkat tren "aura farming" yang tengah viral di media sosial TikTok.
Di tengah popularitasnya, lagi-lagi budaya Indonesia diklaim negara tetangga. Padahal, tradisi lomba dayung perahu tradisional ini asli berasal dari Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Banyak netizen dari berbagai negara di Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Filipina, bahkan Vietnam hingga Thailand yang ikut mengklaim Pacu Jalur sebagai bagian dari budaya mereka.
Kabar ini pun meluas dan mendapat respon dari pemerintah. Kepala Dinas Pariwisata Riau, dengan tegas menyatakan bahwa Pacu Jalur adalah warisan budaya asli dari Riau.
"Kami memahami dinamika media sosial. Namun, perlu ditegaskan bahwa Pacu Jalur adalah warisan budaya asli Indonesia, spesifiknya dari Kuantan Singingi, Riau," ucap Roni Rakhmat, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Riau, seperti dikutip SketsaNusantara.id dari akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall pada hari Senin, 7 Juli 2025.
Pacu Jalur adalah tradisi tahunan yang diadakan di Sungai Kuantan, Kuansing, Riau. Acara ini digelar mulai bulan Juni 2025 dengan puncak acara berlangsung pada 20–25 Agustus 2025.
Lomba ini melibatkan perahu panjang yang didayung oleh puluhan orang, dengan seorang anak kecil yang disebut Togak Luan atau Anak Coki yang menari di ujung perahu.
Tarian ini dilakukan saat perahu berada di posisi terdepan sebagai selebrasi yang menunjukkan atraksi unik dan sukses menyita perhatian penonton sepanjang lintasan.
Aksi bocah penari yang menampilkan koreografi keren dan mampu menjaga keseimbangan di tengah laju kencang perahu, menambah daya tarik visual dari budaya acara ini.
Pacu Jalur bukan sekadar lomba olahraga, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam, mencerminkan semangat kebersamaan, keberanian, dan identitas masyarakat Melayu Riau.
Kepopuleran Pacu Jalur melonjak setelah tarian seorang anak bernama Dika dari tim Tuah Koghi, menjadi viral di TikTok di tengah tren Aura Farming.