SketsaNusantara.id – Kematian pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengejutkan publik internasional.
Peristiwa yang awalnya dianggap sebagai musibah saat pendakian, kini berkembang menjadi isu besar yang menuai kritik luas, empati mendalam, serta desakan untuk mendapatkan kejelasan dan keadilan.
Di tengah gelombang kecaman yang terus mengalir, Ali Musthofa, pemandu lokal yang mendampingi Juliana saat itu, akhirnya angkat bicara dan membagikan kronologi kejadian versi dirinya. Kisah ini diangkat oleh SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @mountnesia.
Detik-Detik Hilangnya Juliana di Jalur Berisiko
Ali Musthofa mengungkap bahwa dirinya sempat terpisah dari Juliana selama beberapa menit. Ia mengatakan, “Saya hanya pergi beberapa menit. Saya minta dia istirahat karena bilang lelah. Lalu saya kembali. Saya tidak meninggalkannya,” ujarnya dengan suara lirih.
Namun, ketika kembali, Juliana tak lagi terlihat. Dalam kondisi gelap dan penuh ketidakpastian, Ali melihat samar cahaya senter dari dasar jurang. Dengan naluri dan rasa tanggung jawab, ia nekat menuruni tebing curam tanpa perlengkapan standar penyelamatan seperti anchor, harness, karabiner, atau jumar.
Baca Juga: Investor China Kabur? Proyek Kereta Gantung Rinjani Senilai Rp2,2 T Resmi Batal
Upaya Penyelamatan yang Gagal dan Kritik Publik
Ali mengaku mencoba menuruni jalur terjal hanya dengan peralatan seadanya. “Talinya pun tidak mencukupi. Tapi dia tetap nekat turun, padahal tak tampak apa pun di bawah sana,” ungkap seorang warganet dalam unggahannya. Namun, kondisi medan yang sangat curam ditambah minimnya perlengkapan membuat proses penyelamatan tidak berhasil.
Beberapa hari kemudian, jenazah Juliana ditemukan di wilayah Cemara Nunggal, salah satu rute paling berbahaya di kawasan Gunung Rinjani.
Sosok yang Dicerca dan Dipertanyakan
Ali Musthofa yang sebelumnya hanya dikenal sebagai pemandu lokal kini menjadi sorotan tajam. Ia dituduh lalai dan tak profesional, bahkan muncul kabar bahwa dirinya telah diblacklist dari komunitas pemandu wisata. Dalam pernyataannya, Ali mengatakan, “Saya coba turun. Saya gagal. Tapi saya tidak membiarkannya sendiri.”
Ungkapan tersebut menuai berbagai respons. Ada yang menyebut Ali sebagai pahlawan karena berani bertindak saat yang lain masih diam. Namun, tak sedikit pula yang menganggap keberaniannya justru sebagai bentuk kecerobohan karena dilakukan tanpa peralatan memadai.