SketsaNusantara.id - Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan pasar yang masih berlangsung, sejumlah investor institusional global justru menunjukkan kepercayaan kuat pada salah satu bank terbesar di Indonesia.
Fenomena ini menjadi sorotan karena terjadi ketika banyak saham lain justru mengalami koreksi cukup dalam.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi perhatian utama setelah langkah mengejutkan dilakukan oleh JP Morgan Chase & Co.
Sepanjang kuartal II/2025, JP Morgan tercatat membeli 117,42 juta saham BBRI, membuat total kepemilikan mereka melonjak menjadi 1,54 miliar saham. Padahal, pada kuartal sebelumnya, mereka sempat melepas lebih dari 500 juta saham BRI.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai aksi ini lebih dari sekadar memanfaatkan momentum pasar.
“Langkah JP Morgan menambah saham BBRI di tengah pelemahan pasar bukan hanya sinyal investasi dalam memanfaatkan momentum yang ada, tetapi juga cerminan dari market trust terhadap arah transformasi dan fondasi fundamental bisnis BRI yang kuat,” ujarnya.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa optimisme terhadap BRI juga datang dari para analis. Konsensus terbaru mencatat, sebanyak 31 analis merekomendasikan beli untuk saham BBRI, dengan target harga rata-rata 12 bulan ke depan sebesar Rp4.703,61 per saham—yang berarti ada potensi kenaikan hingga 27,1% dari harga saat ini.
Harga saham BRI sendiri per 1 Juli 2025 ditutup di level Rp3.700 per lembar, masih terkoreksi. Namun, aksi pembelian besar-besaran oleh JP Morgan menjadi sinyal bahwa investor besar melihat potensi jangka panjang berkat transformasi yang tengah dilakukan perseroan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa transformasi ini difokuskan melalui program BRIVolution Reignite. “Meskipun saat ini saham BBRI sedang mengalami tekanan seiring dengan kondisi pasar, namun secara fundamental masih kokoh, dengan dukungan fondasi bisnisnya yang kuat juga strategi transformasi,” katanya.
Transformasi yang dijalankan meliputi penguatan tata kelola, digitalisasi, manajemen risiko, hingga pengembangan SDM. Semua ini diarahkan untuk mewujudkan visi BRI sebagai The Most Profitable Bank in Southeast Asia pada 2030.
“Kami tetap fokus pada penguatan fundamental baik dari sisi pendanaan, penyaluran kredit yang berkualitas, peningkatan kapabilitas digital, penerapan manajemen risiko yang memadai hingga pengembangan SDM,” tegas Hery lagi.