Minggu, 19 Juli 2026

Awalnya Hanya 25 Peternak, Kini 300 Lebih: Kisah Klaster Susu Ponorogo Bangkit Lewat Dukungan BRI dan Produksi 10 Ton Susu per Hari

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 2 Juli 2025 | 16:38 WIB
Kisah sukses UMKM di Ponorogo. (Dok. BRI)
Kisah sukses UMKM di Ponorogo. (Dok. BRI)

SketsaNusantara.id - Tidak banyak yang tahu bahwa Dusun Ngelon di Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo, menjadi rumah bagi salah satu klaster susu paling produktif di Jawa Timur.

Klaster Susu Mulya Abadi, yang kini membawahi lebih dari 300 peternak, telah menunjukkan bagaimana kolaborasi, kerja keras, dan dukungan lembaga keuangan seperti BRI mampu mengubah nasib kelompok kecil menjadi kekuatan ekonomi lokal.

Awalnya, hanya 25 peternak yang memulai inisiatif ini setelah koperasi sebelumnya berhenti beroperasi.

Baca Juga: BRI Sabet 15 Penghargaan Internasional di FinanceAsia 2025, Bukti Ketangguhan Bank Rakyat hingga Kancah Global

Mereka membentuk klaster dengan tujuan sederhana, menyelesaikan persoalan bersama. Namun, siapa sangka, dengan semangat gotong royong dan strategi yang tepat, mereka bisa menyetor hingga 10.000 liter susu per hari, dengan sistem distribusi dan keuangan yang tertata rapi.

"Awalnya kami hanya 25 orang, tapi karena kerja bersama dan saling membantu, semakin banyak peternak yang bergabung. Sekarang anggota kami sudah lebih dari 300 orang dari hampir enam desa di Pudak," ujar Samsul Hadi, Koordinator Klaster Susu Mulya Abadi.

Pertumbuhan ini tak lepas dari kehadiran BRI melalui program Klasterkuhidupku. Selain fasilitas pembiayaan, bank pelat merah ini juga memberikan pelatihan manajemen usaha, literasi keuangan, hingga sistem pembayaran digital langsung ke rekening masing-masing peternak.

Baca Juga: Di Tengah Proses Hukum KPK, BRI Tegaskan Transformasi Tetap Jalan dan Layanan Nasabah Tak Terganggu

"Pembayaran susu setiap bulan langsung melalui rekening BRI. Ini membuat keuangan kelompok kami transparan dan terjamin," sambung Samsul.

Tahun 2022 menjadi masa sulit bagi banyak peternak akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Produksi susu turun drastis hingga 50 persen, namun BRI kembali hadir dengan solusi konkret, termasuk pembiayaan indukan baru untuk meningkatkan produktivitas.

"Jika ada peternak yang kesulitan membayar angsuran, BRI sangat terbuka memberikan keringanan. Bahkan mereka juga mendukung permodalan bagi petani yang ingin menanam rumput pakan sapi," terang Samsul.

Tak hanya soal pembiayaan, kunci lain keberhasilan klaster ini menurut Samsul adalah kekompakan dan kejujuran dalam organisasi, serta pakan berkualitas.

Mereka juga menggunakan tiga mesin pendingin berkapasitas total 7.500 liter sebelum susu diangkut truk tangki.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X