SketsaNusantara.id - Paul Farrel, seorang pendaki dari Irlandia sempat mengalami peristiwa naas seperti yang dialami oleh Juliana Marins.
Bedanya, Paul Farrel pada Oktober 2024 yang lalu berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat namun Juliana Marins tidak.
Usai peristiwa tragis Juliana Marins, dalam sebuah wawancara dilansir dari SketsaNusantara.id, Paul Farrel yang berhasil selamat dari petaka maut Rinjani membuat pernyataan yang cukup menyentil netizen.
Secara terus terang ia menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara miskin yang tak cukup memiliki sumber daya penyelamatan meski merupakan negara dengan destinasi gunung yang banyak dikunjungi wisatawan.
Awalnya ia bercerita bahwa ia telah jatuh ke jurang, tak jauh dari Juliana Marins jatuh dan dengan kedalaman yang sama saat Juliana ditemukan pertama kali, yakni 200 meter.
Paul Farrel bercerita bahwa ia tiba-tiba jatuh karena kehilangan keseimbangan saat ia membersihkan sepatunya dari ketikil.
"Sepatu saya kemasukan kerikil-kerikil tajam dan untuk itu saya harus membuka sarung tangan, untuk itu saya harus melepaskan darung tangan tapi angin menerbangkan sarung tangan saya ke arah rawa," ujarnya.
"Saya berlutut untuk mengambilnya tapi tiba-tiba tanah tempat saya berpijak runtuh dan saya jatuh, makin cepat dan adrenalin terpompa," tambahnya.
Saat jatuh tersebut ia mengaku langsung menyadari bahwa ia bisa mati kapanpun di jurang itu dan ia tak mau mengalami hal itu sehingga ia langusng 'menghidupkan' mode bertahan hidupnya.
Ia mengaku mencengkeramkan tangannya kemanapun dan di saat terus merosot kebawah itulah ia menemukan bongkahan batu besar dan ia berusaha membelokkan tubuhnya kesana dan berhasil.
Untung saat itu ia naik bersama 1 pendaki perempuan dan ia berteriak dari bawah sekuat mungkin agar temannya mencari pertolongan ke basecamp.
Paul Farrel mengaku ia harus menunggu 6 jam dengan penuh kekhawatiran dan keputusasaan sebelum pertolongan datang.