Pendakiannya ke Gunung Rinjani kemungkinan adalah momen pertamanya mendaki dan mempercayakan pada pemandu yang aman.
Namun, pendakian yang seharusnya aman, berubah menjadi bencana. Situasi berubah darurat ketika Juliana kehilangan pijakan akibat kelelahan dan terjatuh ke dalam jurang terjal.
Pihak keluarga sempat menyuarakan kekecewaan lewat media sosial, bahkan menyebut penanganan dari otoritas Indonesia lambat dan kurang sigap dalam menyelamatkan Juliana.
Warganet pun terbelah, ada yang membela tim SAR karena medan yang sulit dan menuntut sistem evakuasi lebih cepat untuk turis di jalur ekstrem seperti Rinjani.
Namun, kondisi di Gunung Rinjani yang terjal dan cuaca yang tak menentu membuat Tim SAR ikut kewalahan. Terlebih jika dipaksakan akan menambah korban baru.
6. Juliana Ditemukan Tewas Setelah Penyelamatan 4 Hari
Setelah pencarian intensif selama 4 hari, Juliana Marins akhirnya ditemukan, namun sayangnya dalam kondisi tak bernyawa, pada hari Selasa, 24 Juni 2025.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyebut evakuasi Juliana dilanjutkan hari Rabu, 25 Juni 2025 akibat cuaca dan kabut tebal yang berbahaya bagi relawan maupun tim SAR melakukan penyelamatan.
Juliana dievakuasi dengan metode lifting dengan diangkat ke atas lalu divakuasi menggunakan tandu menyusuri rute pendakian menuju Posko Sembalun. Disediakan pula pesawat untuk dilakukan evakuasi medis udara menuju ke rumah sakit.
7. Mengapa Tak Gunakan Helikopter untuk Menyelamatkan Juliana?
Banyak yang bertanya, mengapa helikopter tidak langsung digunakan sejak awal? Faktanya, evakuasi udara di daerah gunung berapi aktif seperti Rinjani memiliki risiko tinggi.
Rotor helikopter bisa memicu longsoran bebatuan atau tanah, dan kondisi cuaca gunung yang cepat berubah bisa membahayakan keselamatan kru maupun korban.