SketsaNusantara.id - BRI menerbitkan Social Bond senilai Rp5 triliun. Untuk pertama kalinya di Indonesia, sebuah bank nasional menerbitkan obligasi berwawasan sosial secara resmi dan terbuka.
Antusiasme investor yang sangat tinggi hingga terjadi oversubscription senilai Rp6,57 triliun menunjukkan bahwa proyek-proyek sosial pun kini memiliki daya tarik pasar, asalkan dikemas dengan kerangka keuangan yang matang dan kredibel.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan bahwa penerbitan Social Bond ini bukan sekadar langkah bisnis, tetapi juga tanggapan atas minimnya instrumen pembiayaan sosial di Indonesia.
Baca Juga: BRI Hadirkan Loyalty Poin Cashier 2025, Beri Hadiah Mobil Listrik hingga Gadget bagi Merchant Aktif
Dari layanan dasar hingga pemberdayaan masyarakat, terlalu banyak proyek sosial yang tak tersentuh anggaran publik, baik karena keterbatasan dana maupun prioritas politik.
Dengan Social Bond ini, BRI masuk ke ruang yang selama ini justru menjadi domain negara. Ini bisa dibaca sebagai langkah proaktif lembaga keuangan dalam mengisi kekosongan pembangunan sosial yang belum tersentuh.
Berbeda dari obligasi konvensional yang sering digunakan untuk memperbesar modal kerja atau ekspansi korporasi, Social Bond BRI ini secara khusus dialokasikan untuk proyek-proyek yang berorientasi sosial, pembangunan infrastruktur dasar yang terjangkau, akses layanan esensial, rumah murah, penciptaan lapangan kerja, hingga pembiayaan UMKM.
Proyek-proyek ini selama ini dikenal sebagai ‘proyek sunyi’, tak populer secara politik, tapi krusial bagi rakyat kecil.
Dengan menyasar sektor-sektor ini, BRI mengarahkan modal finansial ke tempat yang paling membutuhkan, tanpa harus menunggu anggaran negara datang.
Minat investor pada obligasi ini sangat tinggi, bahkan melebihi target awal.
Dengan oversubscription mencapai Rp6,57 triliun, jelas bahwa ada kepercayaan besar terhadap fundamental BRI dan juga ketertarikan pasar terhadap proyek-proyek sosial yang berkualitas.
Ini menjadi bukti bahwa pembiayaan sosial tidak lagi dianggap beban, melainkan peluang ekonomi baru—selama dikelola dengan akuntabilitas dan transparansi yang baik.
Peringkat idAAA dari PEFINDO memberi jaminan bahwa risiko obligasi ini sangat rendah. Dengan tiga seri berbeda (2, 3, dan 5 tahun), dan bunga yang kompetitif, instrumen ini menjadi pilihan yang aman namun bermakna sosial bagi investor.