Pada 1 Maret 2025, pelaku meminta pinjaman Rp 13 juta untuk biaya administrasi sepupunya bernama Miftahul Syifa alias Cipa, yang ingin bekerja melalui melalui koneksi "orang dalam".
Kani percaya saja dan tidak menaruh curiga yang akhirnya menuruti keinginan pelaku dengan mentransfer uang ke rekening BRI atas nama Indri Sintia.
Kemudian, pada tanggal 27 April 2025, pelaku meminta bantuan lagi Rp 35 juta untuk biaya pelatihan di maskapai Emirates Arab. Akibatnya, Kani mengalami kerugian mencapai Rp 48 juta.
Tindakannya yang gegabah ini menuai kritik dari warganet. Pasalnya, staff media Prabowo ini mudah percaya bahkan dengan mudahnya memberi pinjaman uang puluhan juta pada orang yang baru dikenalnya di Instagram.
Warganet juga mengkritik staff media Prabowo ini karena mendukung praktik ordal dalam dunia kerja, yang mendukung tindakan nepotisme dalam proses perekrutan karyawan.
Dalam kasus ini, Kani mendukung tindakan menggunakan "jalan pintas" dengan membayar sejumlah uang, padahak praktik ordal ini cenderung merugikan kandidat yang kompeten di bidangnya.
3. Investigasi Mandiri Dibantu Polisi
Kani melakukan investigasi mandiri bahkan dibantu polisi untuk mengungkap kasus love scamming yang menimpa dirinya.
Kecurigaan Kani muncul saat mengirim bunga ke alamat pelaku di Rangkasbitung, Lebak, dan ternyata alamat tersebut adalah fiktif.
"Aku sempet investigasi mandiri ke TKP, kumpulkan bukti-bukti, saksi-saksi dan lapor ke polisi," ungkap Kani Dwi dalam kolom komentar di postingannya yang ditulis hari Rabu, 18 Juni 2025.
"Sempat kirim bunga untuk cek alamat pelaku ternyata itu bohong dan alamat yang dikasih Febrian itu alamat toko emas Haji Ali, aku cek (dibantu) pake nomor polisi, akhirnya baru tahu alamat aslinya," tuturnya.
Jurnalis dan reporter tvOne ini juga menemukan bahwa foto dan video yang dikirim pelaku adalah hasil editan AI yang mengambil dari internet.