SketsaNusantara.id - Ketika perhatian dunia teralihkan pada konflik antara Zionis Israel dan Iran, serangan brutal Israel ke Jalur Gaza tak kunjung berhenti.
Di tengah kebisingan politik global soal Iran, warga Palestina kembali menjadi korban kelaparan, luka-luka, hingga kematian.
Serangan udara ke Gaza terjadi bersamaan dengan agresi militer Israel ke Iran yang berlangsung selama 3 hari berturut-turut.
Baca Juga: Iran Hantam Zionis Israel dengan Rudal: Ini 5 Fakta Penting yang Bikin Dunia Ketar-ketir
Laporan terbaru yang dikutip dari AJplus menyebutkan, lebih dari 274 orang Palestina tewas dan lebih dari 2.000 lainnya luka-luka hanya dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan itu terutama terjadi di sekitar area distribusi bantuan yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel, seperti yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).
Blokade dan Serangan: Gaza Jadi Neraka
Serangan Israel kini bahkan menargetkan tempat-tempat yang seharusnya aman, yakni lokasi pembagian bantuan makanan.
Baca Juga: Perundingan Nuklir Iran-AS Dibatalkan Pasca Konflik Iran-Israel yang Kian Memanas
Jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, mengungkapkan bahwa warga Palestina kini mulai menyebut area distribusi GHF sebagai “lokasi eksekusi” (execution sites), karena sering menjadi sasaran serangan udara Israel.
“Kami kehabisan pilihan dan terpaksa datang ke tempat berbahaya ini hanya untuk mendapatkan bantuan. Have run out of options and are forced to travel to these dangerous spaces to get aid)", ujar Tareq.
Blokade penuh Israel selama 11 minggu di Gaza memaksa warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, untuk mengambil risiko nyawa hanya demi sepotong makanan.
Di lokasi-lokasi distribusi bantuan yang sebelumnya dianggap sebagai titik harapan, kini justru menjadi titik kematian massal.
Dalam kondisi kelaparan yang parah, banyak warga tewas saat berusaha mendapatkan makanan.