Ia menyebutkan bahwa ketidakadilan, baik dalam bentuk kesenjangan sosial maupun rekayasa struktural, adalah sesuatu yang harus dilawan karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Anies menegaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab untuk mencegah kemungkaran dengan cara memperjuangkan keadilan di segala aspek kehidupan.
"Ibnu Khaldun, cendekiawan Muslim abad ke-14, dalam karyanya, kitab Muqaddimah, mengamati bagaimana dinasti-dinasti besar
runtuh bukan karena serangan musuh, tetapi karena ketimpangan internal yang tidak teratasi," tutur Anies.
5. Membangun Kota yang Berkeadilan
Sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies mengaitkan semangat Idul Adha dengan mengajak masyarakat untuk mewujudkan visi membangun kota yang berkeadilan.
Ia menyerukan perlunya menciptakan lingkungan urban yang inklusif, di mana setiap warga memiliki akses yang sama terhadap peluang dan kebutuhan dasar.
"Membangun kota yang adil bukan angan-angan, tapi bisa dimulai dari langkah konkret oleh para pengelola kota, mulai dari memberi akses yang setara untuk pendidikan dan kesehatan bagi seluruh dan setiap warga, apapun latar ekonomi dan tempat tinggalnya," ujarnya.
"Prinsipnya, membesarkan yang kecil tanpa mengecilkan yang besar. Ini semua hanya mungkin terwujud bila pemimpin kota dan warganya berjalan seiringan," tuturnya.
Anies mengajak jamaah untuk berkontribusi dalam membangun kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga adil secara sosial, sehingga semua lapisan masyarakat dapat merasakan kesejahteraan.
"Maka kita panjatkan doa, agar para pemimpin kota-kota kita akan mampu menghadirkan keadilan dan mempermudah segala urusan warganya," lanjut Anies.
6. Kesadaran Menuju Aksi: Semangat Berkurban untuk Keadilan Sosial
Anies menutup khutbahnya dengan pesan inspiratif. Ia meningkatkan kepekaan sosial didasari ketakwaan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama.