Perspektif Sufistik: Melepaskan Ego di Padang Arafah
Dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju Arafah adalah bagian dari perjalanan spiritual seorang salik (pejalan ruhani). Sufi besar menafsirkan Arafah sebagai maqam ma’rifah, tempat di mana seseorang mencapai pengenalan hakiki terhadap Allah.
Di sinilah terjadi proses fana’, yakni lenyapnya ego dan topeng dunia. Ka’bah hanyalah panggilan awal, bukan tujuan akhir.
Baca Juga: Visa Haji Furoda Tak Terbit, Ruben Onsu Batal Naik Haji? Begini Jawaban Mantan Suami Sarwendah
Sebagaimana hadits Nabi yang masyhur dalam dunia tasawuf:
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.”
Artinya, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
Maka, Arafah menjadi panggung utama untuk mengenali siapa diri kita yang sebenarnya, menanggalkan segala status sosial, kekayaan, dan gelar duniawi.
Semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama, berdiri di tempat yang sama, dan memohon kepada Tuhan yang sama. Tak ada perbedaan. Semua bersatu dalam kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Ali Shariati: Arafah adalah Padang Eksistensi
Ali Shariati, pemikir Muslim kontemporer, juga menyoroti makna filosofis dari Arafah. Baginya, haji adalah bukan sekadar ritual.
Ketika seseorang pergi ke Arafah, itu seperti keluar dari rumah Tuhan untuk bertemu Tuhan di alam luas ciptaan-Nya. “Di Ka’bah engkau mencium batu. Tapi di Arafah, engkau berdiri di hadapan diri sendiri.”
Inilah momen di mana manusia menghadapi dirinya secara jujur. Tanpa topeng dan tanpa suara bising dunia, namun hanya ia dan Penciptanya.
Kembali ke Ka’bah dengan Jiwa yang Baru