Tentunya, selalu ada pro-kontra ketika pihak pemerintah membuat keputusan. Di sisi lain, pujian kerap dilancarkan untuk sang gubernur.
Sementara di sisi lainnya, banyak juga warga Bogor yang mengecam solusi ini tidak efektif dan malah merugikan masyarakat setempat.
“Trus warga situ kalo mau pergi-pergi naik apa? Grab susah, ojek pangkalan mahal,” keluh akun @_adnelia di kolom komentar akun Instagram lain yang membagikan berita tersebut.
“Kasian yang kerja biasa naik angkot harus naik ojeg/grab dengan ongkir 2 kali lipat,” kata akun @millaameliaaa.
“Bukan solusi sih menurut gua, karna angkot tiap weekend aja ga pernah keliatan di jalur puncak,” timpal akun @ndindandunn.
Ada pula yang turut memberi solusi alternatif untuk kemacetan ini. Mereka menekankan bahwa angkutan umum bukan sumber masalahnya, melainkan kendaraan pribadi yang kebanyakan digunakan wisatawan.
“Kalau mau bener sih … jangan ada kendaraan pribadi dll masuk ke puncak tapi gunakan layanan angkot untuk antar pengunjung puncak secara gratis dengan dikalkulasi secara tepat guna jumlah angkot yang akan beroperasi dari bawah ke atas dan sebaliknya model kaya destinasi wisata di china,” ujar akun @didit_damar.
Solusi Lain dari Pemerintah
Memang banyak faktor yang berkontribusi dalam memperparah kemacetan di Puncak, terutama para perantau yang mudik serta wisatawan dari luar Bogor.
Menyikapi persoalan ini, berbagai solusi pun sudah sering diterapkan seperti sistem jalur satu arah, pengendara yang diarahkan lewat jalan alternatif, dan lain-lain. Namun, tetap saja Puncak selalu dibanjiri macet tiap tahunnya. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini