"Jadi dari WHO itu ada protokol uji klinis level 3 yang harus dipenuhi oleh semua perusahaan farmasi,” ujarnya.
“Dia harus lakukannya seperti ini milih orangnya seperti ini, tata cara ngukurnya seperti ini, concern-nya approvalnya mesti seperti ini, nanti labnya seperti ini, harus angkanya minimal seperti ini, itu semuanya ada protokolnya," ucap Budi.
Menariknya, Indonesia tidak hanya berperan sebagai lokasi pengujian, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam kolaborasi global ini. Budi menyebut bahwa sejumlah akademisi dan pakar kesehatan dari dalam negeri turut dilibatkan, termasuk dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
“Ahli-ahlinya kita di Indonesia kita pake dari UI dan juga dari Unpad," katanya.
“Terus dengan guru besar dari UNPAD itu menjadi mitra dengan guru besar-guru besar lain di dunia untuk melakukan uji klinis tahap 3 dari vaksin TBC," pungkas Budi.
Dengan penjelasan tersebut, pemerintah berharap masyarakat tidak terburu-buru menilai negatif keterlibatan Indonesia dalam proyek riset internasional ini. Sebaliknya, keterlibatan para ahli lokal justru menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki kapasitas dan kontribusi nyata dalam pengembangan solusi kesehatan global.
Apabila hasil uji klinis menunjukkan vaksin tersebut belum cocok untuk masyarakat Indonesia, maka masih ada ruang untuk dilakukan penyempurnaan. Karena itulah, proses ini dipandang sebagai langkah strategis dalam upaya memerangi TBC yang masih menjadi masalah serius di Tanah Air.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!