Hal ini dilakukan untuk menjaga independensi pemilihan tersebut.
Penguncian para kardinal dalam pemilihan Paus ini pula yang membuat Konkalf kerap disebut sebagai ritual rahasia.
Baca Juga: Misi Duka ke Vatikan: Jokowi dan Tokoh Nasional Diutus Prabowo Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus
Konklaf sendiri pertama kali digelar pada tahun 1276, sehingga saat ini tradisi pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia ini sudah berjalan hampir 749 tahun.
Sidang Konklaf harus sudah digelar dalam waktu 15-20 hari setelah wafatnya paus.
Itulah mengapa Konklaf 2025 digelar pada 7 Mei 2025, 15 hari setelah Paus Fransiskus meninggal dunia.
Agar rahasia pemilihan Paus terjamin, para kardinal yang mengikuti Konklaf akan 'dikurung' di dalam Kapel Sistina selama proses pemilihan berlangsung.
Selain melakukan voting, para kardinal juga akan melakukan aktivitas hariannya seperti makan dan tidur di kapel tersebut.
Para kardinal termasuk pejabat dan staf yang berada di dalam Kapel Sistina selama Konklaf, seperti dokter, perawat medis hingga staf layanan medis wajib untuk mengambil sumpah kerahasiaan.
Sumpah tersebut termasuk janji untuk menjaga kerahasiaan atas segala hal yang terjadi di dalam Kapel Sistina selama Konklaf berlangsung.
Sejumlah sumber menyebutkan, mereka yang melanggar sumpah akan langsung diusir dari gereja.
Selama proses Konklaf, seluruh pihak yang terlibat di dalamnya akan diisolasi dari dunia luar hingga dilarang untuk memakai ponsel.
Selain voting untuk memilih Paus baru, para kardinal juga melakukan kegiatan lainnya seperti berdoa dan diskusi.