news

Sederet Fakta Menarik Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung dari Indonesia yang Masuk Daftar Konklaf Pemilihan Paus Baru di Vatikan

Senin, 5 Mei 2025 | 08:30 WIB
Potret Ignatius Suharyo, kardinal dari Indonesia yang masuk dalam daftar calon pemimpin baru Vatikan pengganti Paus Fransiskus (Instagram/mgr.ignatius.suharyo)

Uniknya, ia memilih untuk tidak menggunakan zucchetto (topi uskup) dalam berbagai kesempatan, termasuk saat memimpin Misa.

Ia juga tidak memegang tongkat gembala saat menyampaikan homili yang menunjukkan kesederhanaan dalam kepemimpinannya sebagai pemuka agama.

Baca Juga: Alasan Kenapa Jokowi Ditunjuk Prabowo Wakili Indonesia di Pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan

5. Diberi Gelar Kardinal oleh Paus Fransiskus

Pada 1 September 2019, dari Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus mengumumkan Suharyo sebagai salah satu dari 13 kardinal baru dalam konsistori 5 Oktober 2019.

Dalam konsistori tersebut, Ignatius Suharyo menerima gelar Kardinal Imam Spirito Santo alla Ferratella.

Penunjukan ini menegaskan pengakuan Vatikan terhadap Igantius Suharyo sebagai uskup agung yang berpengaruh.

Mgr. Suharyo memainkan peran sebagai penasihat Paus Fransiskus dalam proses pengambilan keputusan penting untuk mengelola pemerintahan Gereja Katolik di dunia.

Baca Juga: Mengenal Tanatopraksi, Teknik Pengawetan Tubuh yang Digunakan Vatikan pada Jenazah Paus Fransiskus, Beda dengan Mumifikasi?

6. Uskup Ketiga yang Mengikuti Konklaf di Vatikan

Ignatius Suharyo bukan hanya Uskup Agung yang punya nama besar di Indonesia. Namanya dihormati secara internasional sebagai salah satu kardinal yang rendah hati dan keterbukaannya terhadap dialog antaragama.

Suharyo menjadi uskup agung ketiga dari Indonesia yang berpartisipasi dalam konklaf, setelah Kardinal Darmojuwono (1978) dan Kardinal Darmaatmadja (2005 dan 2013).

Keikutsertaannya dalam konklaf 2025, sebagai satu-satunya kardinal elektor dari Indonesia, menandai momen bersejarah.

Suharyo menegaskan bahwa menjadi paus bukanlah ambisi atau cita-cita pribadi. Ia menyadari bahwa peluangnya menjadi paus sangat kecil mengingat kandidat lain memiliki jenjang karir yang lebih baik.

7. Sosok Uskup Agung yang Peduli Terhadap Keadilan dan Isu Sosial

Halaman:

Tags

Terkini