news

Hardiknas 2025, Anies Baswedan Soroti Pentingnya Pendidikan Ulang bagi Orang Dewasa Lewat Skema Re-entry dan Retraining, Begini Penjelasannya

Jumat, 2 Mei 2025 | 12:17 WIB
Anies Baswedan sampaikan pentingnya pendidikan tak hanya di untuk anak-anak juga bagi orang dewasa, termasuk pelatihan menghadapi perkembangan teknologi di masa depan (Instagram/aniesbaswedan)

SketsaNusantara.id - Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas yang diperingati setiap 2 Mei selalu menjadi momen refleksi tentang kondisi pendidikan di Indonesia.

Pada Hardiknas 2025, warganet ramai membagikan harapan mereka terhadap sistem pendidikan Tanah Air hingga jadi trending topic di X (dulu Twitter).

Salah satu yang menarik perhatian adalah postingan Anies Baswedan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu ikut menyoroti pentingnya pendidikan ulang bagi orang dewasa melalui skema re-entry dan retraining dalam peringatan Hardiknas 2025.

Melalui akun X miliknya, akademisi yang akrab disapa Abah ini menguraikan gagasannya sebagai solusi untuk menjawab tantangan pendidikan dan ketenagakerjaan di Indonesia.

Baca Juga: Profil Ki Hajar Dewantara, Sosok di Balik Peringatan Hardiknas Tanggal 2 Mei, Keturunan Sultan Mataram yang Dijuluki Bapak Pendidikan

Gagasannya ini sekaligus melanjutkan semangat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang ingin memajukan pendidikan untuk mencetak generasi yang "merdeka".

Anies Baswedan yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014–2016 tentunya memiliki pemahaman mendalam tentang permasalahan pendidikan di Indonesia.

Dalam tulisannya di X @aniesbaswedan, ia mengenang program SD Inpres di era tahun 1970-an yang membangun 61.000 sekolah dasar dalam lima tahun dan berhasil memberikan akses pendidikan kepada anak-anak di seluruh pelosok.

Namun, Anies menyoroti bahwa tangga pendidikan itu "terhenti di tengah jalan" karena tidak ada program serupa untuk SMP dan SMA.

Baca Juga: Siapa Istri Ki Hajar Dewantara? Mengenal RA Sutartinah yang Berjasa dalam Memajukan Pendidikan Wanita Indonesia, Satu Angkatan dengan RA Kartini?

"Banyak yang bilang saat itu negara kekurangan dana. Ada pula yang khawatir kalau pendidikan terlalu tinggi tapi tak ada lapangan kerja, maka takut lahir pengangguran terdidik," tulisnya dalam cuitan dikutip SketsaNusantara.id hari Jumat, 2 Maret 2025.

"Sistem (pendidikan) pun terhenti di tengah jalan (hanya sampai SD). Padahal justru saat itulah anak-anak mulai menggantungkan harapan," imbuhnya.

Akibatnya, hingga kini 55% pekerja Indonesia hanya lulusan SMP ke bawah, mayoritas bekerja di sektor informal dengan mobilitas sosial yang terbatas.

Anies membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan. Pada era yang sama, Negeri Ginseng itu memilih untuk mengembangkan pendidikan menengah dan tinggi meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi.

Halaman:

Tags

Terkini