Apalagi, menurut mantan Menteri Tenaga Kerja kabinet Ampera, Awaloeddin Djamin, perayaan buruh selalu didominasi oleh SOBSI atau Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), organisasi sayap dari PKI.
“Seluruh rakyat Indonesia pun mengetahui, pada tahun-tahun berdarah itu perayaan hari buruh selalu didominasi oleh SOBSI/PKI,” tulis Awaloeddin Djamin dalam buku autobigorafinya Pengalaman Seorang Perwira Polri: Awaloeddin Djamin yang terbit tahun 1995.
Alasan lainnya, yakni presiden yang menjabat selama 32 tahun itu menilai peringatan Hari Buru tak lagi sesuai dengan perkembangan zaman pada saat itu.
Baca Juga: Asal Usul Hari Buruh 1 Mei, Pernah Dilarang di Zaman Orde Baru karena Dianggap Gerakan Komunis
2. Mengganti Istilah Buruh dengan Karyawan
Pelarangan peringatan Hari Buruh melahirkan istilah baru yakni karyawan.
Setelah peringatan Hari Buruh ditiadakan, lahirlah istilah karyawan yang mulai dipopulerkan pemerintah Orde Baru.
Istilah karyawan digunakan untuk mengganti istilah buruh yang bagi pemerintahan aat itu identik dengan kelompok komunis.
Istilah karyawan berasal dari 2 kata yakni karya (kerja) dan wan orang).
Melalui ‘Operasi Karya’, pemerintah Orde Baru mulai memperkenalkan karyawan sebagai pengganti istilah buruh.
3. Lahirnya Peringatan Hari Pekerja Nasional
Setelah SOBSI dibubarkan bersama PKI pada 12 Maret 1966, presiden Soeharto mendirikan Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI)
Organisasi ini merupakan gabungan dari seluruh serikat buruh di Indonesia yang melebur menjadi satu.