5.Revisi terhadap RUU Ketenagakerjaan yang dianggap belum pro-buruh.
6.Pengesahan RUU Perampasan Aset untuk menjerat pelaku korupsi yang merugikan negara dan buruh.
Salah satu peserta aksi, Tuti, buruh garmen asal Karawang, mengatakan bahwa ini pertama kalinya ia melihat Presiden hadir langsung di tengah massa. "Kami merasa didengar.
Meski belum tentu semua tuntutan dikabulkan, setidaknya kami tidak merasa sendiri," katanya dengan mata berbinar.
Berbagai elemen buruh dari sektor manufaktur, transportasi, perbankan, hingga pekerja informal ikut ambil bagian dalam aksi ini.
Uniknya, aksi tahun ini juga melibatkan komunitas digital pekerja lepas (freelancer) dan ojek online yang menyuarakan isu perlindungan sosial dan jaminan kerja di era digital.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan pengamanan berjalan kondusif. "Kami menurunkan lebih dari 6.000 personel gabungan TNI-Polri. Alhamdulillah sejauh ini aksi berjalan damai dan tertib," ujarnya kepada awak media.
Meski suhu Jakarta cukup terik, semangat peserta aksi tak surut. Beberapa bahkan membawa bekal makanan sendiri, bernyanyi, dan saling menyemangati di sela orasi.
Di sisi lain, UMKM di sekitar Monas turut merasakan dampak positif karena dagangan mereka laris manis oleh para peserta aksi.
Momentum May Day 2025 menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh belum usai. Dengan partisipasi langsung dari Presiden, masyarakat berharap tuntutan yang disuarakan tak sekadar menjadi catatan harian, tapi menjadi pijakan kebijakan nyata.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!