Sayangnya, dalam aksi demo Hari Buruh pertama tersebut, massa yang berpartisipasi didominasi oleh orang-orang Tionghoa dan Eropa.
Minimnya partisipan demo dari kalangan pribumi saat itu menjadi sorotan salah seorang penulis asal Belanda, Henk Sneevliet.
Sejumlah sumber menyebutkan, penulis dan revolusioner Belanda tersebut menuangkan kekecewaannya lantaran sedikitnya pribumi yang turut dalam aksi demo Hari Buruh pertama tersebut.
Padahal, berbagai sumber menyebutkan bahwa seruan aksi demo Hari Buruh 1 Mei 1989 tersebut sudah disebarluaskan di seluruh Hindia Belada (kini Indonesia).
Sejak saat itu hingga tahun 1926, peringatan Hari Buruh rutin digelar pada 1 Mei setiap tahunnya.
Dalam setiap peringatannya, para buruh melakukan aksi mogok kerja massal hingga menggelar demonstrasi.
Berbagai masalah dan tuntutan disuarakan dalam aksi demo tersebut, mulai dari jumlah gaji, jam kerja hingga PHK tanpa alasan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!