Dedi Mulyadi pun menyoroti cara Aura dalam menyampaikan kritik.
Menurut mantan bupati Purwakarta tersebut, sedianya kritik ditujukan pada kebijakan yang membebani rakyat secara ekonomi, bukan soal kegiatan seremonial seperti perpisahan.
“Harusnya speak upnya begini, kritik gubernur karena gubernur membebani rakyat, sekolah harus bayar iuran, kritik gubernur karena membiarkan orang tua dibebani untuk pembayaran sekolah, kritik gubernur karena membiarkan banjir, saya senang. Ini kritik gubernur karena gubernurnya melarang perpisahan," tegas Dedi.
Tak hanya itu, Dedi juga menyinggung kondisi ekonomi keluarga Aura, yang merupakan salah satu korban penggusuran di Bekasi.
Baca Juga: VIRAL! Jeje Govinda Bawa Anak Saat Berdinas, Ini Tanggapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Sebagaimana diketahui, lantaran berdiri di atas tanah negara, rumah mereka pun kena gusur.
Buntutnya, setelah kehilangan tempat tinggal, Aura dan keluarganya terpaksa harus mengontrak rumah.
"Tinggal aja di bantaran sungai, tapi gaya hidup begini (tinggi;red) ini kan harus diubah rakyatnya,” tutur Dedi.
Dedi pun tak segan-segan mengancam tidak akan memberi uang pengganti, pada korban gusur yang dinilai punya gaya hidup tak sesuai perekonomiannya.
“Tanah negara, kebutuhan untuk rakyat, proyek kabupaten (Bekasi;red), terus kemudian saya ngapain ngeluarin uang Rp10 juta buat ibu, udah kasihin orang miskin aja yang lain," ungkap Dedi dengan nada geram.
Sementara itu, seolah tak terima denga pernyataan Dedi, ibu Aura yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, nampak menimpali dan mengungkap bahwa keluarganya termasuk miskin.
“Saya juga miskin,” ucapnya.
"Kenapa miskin gayanya orang kaya," ujar Dedi, kembali mengkritik gaya hidup keluarga Aura.