news

Kenapa Paus Fransiskus Dimakamkan dengan 3 Peti? Ini Makna Mendalam di Balik Tradisi Pemakaman yang Penuh Simbol

Kamis, 24 April 2025 | 08:30 WIB
Potret Paus Fransiskus memimpin misa Paskah di Vatican sebelum wafat, sampaikan pesan perdamaian termasuk mendesak gencatan senjata di Gaza. (Instagram/vaticannews)

SketsaNusantara.id - Pemakaman seorang Paus bukanlah prosesi biasa. Ia sarat makna, penuh simbol, dan mengandung warisan sejarah yang sudah mengakar sejak berabad-abad lalu.

Wafatnya Paus Fransiskus pada April 2025 menjadi peristiwa yang menyita perhatian dunia. Sebagai pemimpin spiritual lebih dari satu miliar umat Katolik, kepergian beliau menjadi momen reflektif dan emosional.

Namun, lebih dari sekadar duka, upacara pemakaman Paus Fransiskus mengungkap tradisi suci yang jarang tersorot. Salah satu yang paling ikonik adalah penggunaan tiga lapis peti mati, simbol berlapis dari spiritualitas, kehormatan, dan sejarah panjang Gereja Katolik.

Baca Juga: Apa Itu Deklarasi Istiglal Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar, Bagaimana Kelanjutannya Usai Sang Pope Meninggal Dunia?

Segera setelah wafatnya dikonfirmasi, Gereja memasuki fase sede vacante—masa kekosongan takhta suci. Ini adalah masa kritis, ketika kepemimpinan Gereja untuk sementara waktu berada di tangan Kolegium Kardinal, sementara dunia menanti Paus baru yang akan ditentukan lewat konklaf.

Tugas awal berada di pundak Camerlengo Gereja Roma Suci, yang saat ini dijabat oleh Kardinal Kevin Farrell. Sesuai tradisi, Camerlengo memanggil nama baptis Paus sebanyak tiga kali. Jika tak ada jawaban, ia lalu menyatakan secara resmi, “Paus benar-benar telah tiada.”

Setelah pernyataan tersebut, dilakukan tindakan simbolis yang hanya terjadi saat seorang Paus wafat, penghancuran Cincin Nelayan. Cincin ini adalah lambang otoritas kepausan. Penghancurannya menjadi penanda berakhirnya jabatan sang Paus dan juga langkah pencegahan dari penyalahgunaan segel resmi.

Baca Juga: Kehilangan Tokoh Kemanusiaan, Nasaruddin Umar Sedang Mengupayakan Pergi ke Vatikan untuk Paus Fransiskus

Vatikan kemudian segera mengirimkan pemberitahuan ke seluruh pemimpin Gereja global. Masa berkabung resmi pun dimulai, dikenal sebagai Novemdiales, sembilan hari penuh doa dan misa bagi arwah Paus.

Tubuh Paus kemudian dibersihkan dan dikenakan jubah merah-putih, warna yang melambangkan martir dan kesucian. Ia disemayamkan sementara di Santa Marta sebelum dipindahkan ke Basilika Santo Petrus untuk penghormatan publik.

Namun, Paus Fransiskus memberikan satu permintaan berbeda. Dalam surat wasiatnya, beliau menyatakan keinginan untuk dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, bukan di Basilika Santo Petrus sebagaimana tradisi para pendahulunya.

Baca Juga: 5 Fakta Basilika Santa Maria Maggiore, Makam Paus Fransiskus di Roma Italia, Tempat Favorit Pope Francis?

Salah satu tradisi paling mencolok dalam pemakaman ini adalah penggunaan tiga peti mati. Tradisi ini bukan sekadar formalitas, tetapi menyiratkan filosofi yang mendalam:

Peti pertama, dari kayu cemara, adalah simbol kerendahan hati. Di dalamnya, wajah Paus ditutupi kain sutra putih, disertai tabung timah berisi biografi dan koin masa kepausan.

Halaman:

Tags

Terkini