“Anda jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa video Anda ini keren atau menginspirasi,” tulis akun @rsydnxxx dengan nada tajam.
“Gembar-gembor AI, giliran animator lokal sukses, pemerintah numpang eksis. Pemerintah mana bantuannya?” komentar @SFwaxxx.
“Dulu ke mana aja pas industri animasi butuh perhatian? Begitu film 'Jumbo' meledak, langsung klaim sukses generasi muda,” kritik akun @Abzxxx.
“Gibran cuma riding the wave. Pemerintah enggak punya kontribusi dalam film Jumbo, tapi ikut nebeng ketenaran,” tambah akun @jonigantengxxx.
Jumbo Pecah Rekor, Kontras dengan Respons Video Gibran
Sebagai informasi, film animasi “Jumbo” yang disebut dalam video Gibran kini telah ditonton lebih dari 6 juta penonton, menjadikannya sebagai film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa.
Film ini disutradarai oleh komika sekaligus kreator konten, Ryan Adriandhy.
“Alhamdulillahilladzi Bini’matihi Tatimmush Shalihat. FILM JUMBO SUDAH TEMBUS LEBIH DARI 6 JUTA PENONTON,” tulis Ryan di akun X resminya @Adriandhy.
Kesuksesan Jumbo justru semakin memperbesar jarak antara pencapaian kreatif anak bangsa dan narasi politik yang dianggap menunggangi tren oleh sebagian masyarakat.
Gelombang dislike terhadap video monolog Gibran menjadi sinyal bahwa publik makin kritis terhadap pesan-pesan politik yang dinilai tidak autentik.
Terlebih jika dianggap hanya ingin "menumpang panggung" dari keberhasilan pihak lain. Kini, pertanyaannya bukan hanya soal konten, tapi juga siapa yang benar-benar hadir saat perjuangan dimulai?
***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI