Menurutnya, tanpa adanya penghargaan terhadap keyakinan dan pikiran orang lain, perdamaian sejati akan sulit tercipta.
“Tak akan ada perdamaian tanpa kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, serta menghormati pandangan orang lain,” tegasnya, menutup khotbah dengan pesan mendalam yang menggema di hati umat dan pemimpin dunia.
Tepuk tangan panjang dan linangan air mata mengiringi pidato itu, sebuah khotbah yang kini diingat sebagai warisan spiritual terakhir dari seorang tokoh besar dunia.
Menjelang kepergiannya, Paus Fransiskus disebut telah menyampaikan keinginan untuk dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, tempat yang sering ia kunjungi untuk berdoa sebelum diangkat menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Permintaan Paus Fransiskus ini cukup mengejutkan.
Pasalnya, merujuk pada tradisi paus sebelumnya biasanya dimakamkan di bawah tanah Basilika Santo Petrus, Vatikan.
Kematian Paus Fransiskus menandai akhir dari sebuah era kepemimpinan yang mengedepankan kasih, kesederhanaan, dan keberpihakan pada mereka yang tersisihkan.
Namun, pidato terakhirnya akan terus hidup sebagai suara profetik yang menggema di hati dunia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI