Dia berharap, pendistribusian pupuk dapat langsung dilakukan oleh ketua kelompok tani.
Dengan itu, dia meyakini hal tersebut mampu menjadi salah satu cara mencegah mafia pupuk. Sebab, dari distributor langsung didistribusikan ke setiap petani.
Lantas, mengapa Ngawi tetap menjadi penghasil padi terbesar untuk ketahanan pangan Jatim meski pupuk kesulitan?
"Sebab, kami benar-benar menerapkan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB," terangnya.
"Penggunaan pupuk lebih sedikit, namun hasil panen lebih melimpah," ujarnya.
Menurut Joko, PRLB merupakan program pertanian yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia sebagai pupuk maupun pestisida.
Dengan demikian, dapat mengembalikan kandungan unsur hara pada tanah dan dapat menghasilkan produk tanaman pangan yang lebih sehat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI