Menurut mereka tidak etis seorang kepala komunikasi presiden menganggap teror kepala babi ini sebagai guyonan.
"Hebat ya, komunikasinya kepala kantor komunikasi presiden, dia sangka (teror kepala babi) itu lucu tuh," komentar Bivitri Susanti melalui postingan story di akun Instagram @bivitrisusanti.
"Respon istana soal kepala Babi yang dikirim ke Tempo, Bukannya ngomongin hal yang penting tapi (Hasan Nasbi) tapi yang penting ngomong," komentar akun Instagram @bangsamahardika yang merupakan Platform Media Advokasi Gerakan Rakyat.
"Bro berpikir mungkin ini waktunya melawak, tapi dia lupa kalau teror ini berurusan nyawa yang terancam bukanlah sebuah bahan bercandaan, shame on you @hasan_nasbi," imbuhnya.
"Kata-kata Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Republik Indonesia (silahkan dinilai sendiri)," tulis Dhandhy Laksono dalam akun X @dhandy_laksono yang memposting ulang video wawancara Hasan Nasbi.
Sementara itu, Hasan Nasbi menyebut urusan ini tak ada kaitannya dengan pemerintah. Ia menegaskan bahwa pemerintah selalu menjamin kebebasan pers dan kebebasan berpendapat.
"Kami tidak mau dikaitkan dengan itu. Pemerintah menjamin kebebasan pers dan kebebasan berpendapat, yang dikirimin saja masih bisa bercanda kok di medsos," pungkasnya.
Dengan adanya pengiriman kepala babi kepada salah satu jurnalis menjadi tantangan bagi media untuk menyampaikan kritik.
Kejadian ini sekaligus mengingatkan bahwa kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi ancaman serius yang makin menguatkan dugaan publik akan kembalinya masa Orde Baru di era modern sekarang ini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini