SketsaNusantara.id - Polemik disertasi Bahlil Lahadalia kembali jadi perbincangan publik hingga disebut skandal yang mencoreng dunia pendidikan terutama Universitas Indonesia (UI).
Belum lama ini, Dewan Guru Besar atau DGB UI menemukan sederet pelanggaran etik yang dilakukan Bahlil dalam menyusun desertasi hingga dinyatakan lulus dengan kategori cumlaude dalam sidang doktor yang diselenggarakan 16 Oktober 2024 lalu.
Berdasarkan hasil investigasi, DGB UI menyatakan bahwa ada unsur ketidakjujuran dalam pemyusunan disertasi Bahlill termasuk pengambilan data tanpa izin narasumber dan penggunaannya yang tidak transparan.
Selain itu, Bahlil juga ternyata mendapat keistimewaan dan perlakuan khusus dari beberapa dosen dibandingkan mahasiswa lain, termasuk penguji yang diubah secara mendadak.
Bahkan, ada konflik kepentingan yaitu promotor dan kopromotor yang memiliki keterkaitan profesional dengan kebijakan yang diatur Bahlil sebagai pejabat negara.
DGB UI juga menyebut adanya pelanggaran standar akademik, mengingat Bahlil menyelesaikan studi S3 dan menyusun disertasi dalam waktu singkat hanya 20 bulan saja. Padahal umumnya, masa studi program doktor ditempuh selama 6 semester atau setidaknya 36 bulan.
Terkait hal ini, Rocky Gerung menyebut bukan hanya Bahlil yang diselidiki tetapi juga dosen dan guru besar UI yang dianggap belum tuntas menyelesaikan masalah terkait polemik disertasi Bahlil.
Terlebih belum ada keputusan final dari Rektor UI bahkan Bahlil masih diberi kesempatan untuk mengulang padahal sudah ditemukan 4 pelanggaran etik yang bersifat fatal.
"Kita lihat ini semacam ketidakjujuran pada Dewan Guru Besar, karena secara metodologis disertasi itu tidak layak, tidak etis, bahkan sifatnya koruptif, karena disebutkan ada conflict of interest tapi masih diberi kesempatan (mengulang)," kata Rocky dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Rocky Gerung Official yang diunggah hari Jumat, 28 Februari 2025.
"Pembimbingnya disogok mungkin jadi harus dijelaskan dengan tuntas, ada apa? itu menunjukkan ada semacam negosiasi diam-diam, kan UI bilang sendiri akan dipulihkan reputasinya jadi World Class University tapi kalau masih ada keragu-raguan (beri sanksi) dan tidak tuntas ya betul-betul jadi 'World Class' alias WC UI," sindirnya.
Pengamat politik yang pernah mengajar di UI itu juga mendorong Bahlil untuk terus terang di depan publik karena diduga ada peran dari pihak lain dari UI untuk membuka kasus ini ke publik dengan maksud dan tujuan tertentu.