Kamis, 4 Juni 2026

Fakta Belalang dan Ulat Sagu Jadi Menu Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN: Jangan Diartikan Lain ya

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 29 Januari 2025 | 08:09 WIB
Belalang diusulkan menjadi menu MBG. (Pexels.com/Pixabay)
Belalang diusulkan menjadi menu MBG. (Pexels.com/Pixabay)

SketsaNusantara.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi sorotan publik apalagi dengan munculnya wacana penyajian belalang dan ulat sagu dalam menu.

Wacana tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana dalam Rapimnas Pira Gerindra pada Senin 27 Januari 2025.

"Di daerah tertentu, mungkin serangga seperti belalang atau ulat sagu bisa menjadi bagian dari sumber protein," ujar Dadan.

Baca Juga: Ramai Jadi Sorotan, SMP di Surabaya Ini Terapkan Jam Tidur Siang Saat Istirahat Sekolah yang Punya Segudang Manfaat, Lebih Baik dari MBG?

Penyajian belalang dan ulat sagu dalam menu MBG merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan potensi pangan lokal di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga, program ini menyediakan menu yang fleksibel dan tidak bersifat seragam.

Dadan menyatakan bahwa program MBG ini tidak menetapkan standar menu nasional. Berdasarkan potensi dan kebiasaan lokal, setiap wilayah memiliki kebebasan untuk mengatur menu MBG.

Baca Juga: Selain Sentil Siswa yang Keluhkan Menu MBG, Inilah 4 Daftar Kontroversi Deddy Corbuzier yang Kerap Kali Gemparkan Publik hingga Menuai Banyak Hujatan

Di sisi lain, pemerintah pusat mengatur dan menetapkan standar komposisi gizi di setiap menu yang disajikan.

Dadan mencontohkan, daerah yang memiliki banyak telur dapat menjadikan telur sebagai komponen utama menu MBG.

Begitu pula dengan daerah yang memiliki potensi protein lain, seperti ikan atau belalang.

Baca Juga: Keracunan MBG Disorot Media Asing, Warganet Buru-buru Mention Deddy Corbuzier, Kenapa?

"Isi protein di berbagai daerah sangat tergantung pada potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat. Jadi, menu MBG tidak kaku, melainkan fleksibel sesuai kebutuhan lokal," tegas Dadan.

Hal yang sama juga berlaku untuk sumber karbohidrat. Sebagai contoh, masyarakat di Halmahera Barat lebih sering mengonsumsi singkong dan pisang rebus sebagai pengganti nasi. Keragaman pangan lokal ini dinilai sangat penting untuk diakomodasi dalam program makan bergizi.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X