Kamis, 4 Juni 2026

Apa Itu Ritual Sambat? Puluhan Kader Banteng Jogja Gelar Acara Khusus untuk Mengadukan Masa Politik Jokowi di Makam Kotagede Yogyakarta

Photo Author
Diva Diah Liana Ningrum, Sketsa Nusantara
- Senin, 13 Januari 2025 | 17:30 WIB
Ilustrasi ritual sambat ditujukan kepada politik Jokowi yang dianggap kontroversial. Apa makna ritual tersebut? (Freepik / freepik)
Ilustrasi ritual sambat ditujukan kepada politik Jokowi yang dianggap kontroversial. Apa makna ritual tersebut? (Freepik / freepik)

SketsaNusantara.id- Kader Banteng Jogja menggelar ritual yang dilakukan di Makam Kotagede, Yogyakarta.

Ritual ini merupakan sebuah acara khusus yang ditujukan kepada Jokowi sebagai bentuk sikap politik.

Acara tersebut dikenal dengan ritual sambat. Ternyata merupakan pelaksanaan yang memiliki makna mendalam.

Baca Juga: Kader Banteng Yogyakarta Lakukan Ritual Khusus untuk Jokowi, Presiden RI Ke 7 Ini Dianggap Kontroversial untuk PDIP?

Diketahui bahwa puluhan Kader Banteng Jogja itu berkumpul di Makam Kotagede, Yogyakarta untuk melakukan serangkaian ritual.

Adapun ritual ini dilakukan untuk menyikapi politik nasional yang dinilai sudah tidak bisa dibenarkan.

Khususnya atas perilaku Jokowi yang dianggap tidak bisa dinasehati. Ia dinilai telah membakar rumahnya sendiri.

Baca Juga: Kejam! Mahasiswa S2 di Yogyakarta Tak Terima Diputuskan Sang Pacar, Ini yang Dilakukannya...

Yakni sejak sudah tidak menjadi bagian dari PDIP. Padahal PDIP yang dipandang sebagai membesarkan namanya hingga menjadi Presiden RI ke-7.

Maka mereka berkumpul untuk melakukan ritual sambat yang dilakukan dengan mengunjungi makam raja pertama Mataram Islam.

Di sana, mereka mengadukan keresahannya kepada Panembahan Senopati sebagai bagian dari ritual.

Baca Juga: Sekjen PDIP Hasto Jadi Tersangka, Rocky Gerung Sebut Kekuatan Besar Bakal Terus Menyerang Partai Berlambang Banteng

Lantas, apa itu ritual sambat? Sambat dalam Bahasa Jawa dikenal sebagai mengeluh atas sebuah masalah.

Maka mereka mengadukan keluhan bukan ke aparat. Melainkan kepada raja pertama Mataram Islam.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X