Minggu, 19 Juli 2026

Dharma Pongrekun Sebut AI Sebagai 'Mata-Mata', Pakar Medsos Ismail Fahmi: Problem Jakarta yang Kompleks Dihadapi dengan Teori Konspirasi

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 7 Oktober 2024 | 13:00 WIB
Potret Dharma Pongrekun menjawab soal AI yang disebutnya alat intelijen sebagai  mata-mata yang ramai jadi perbincangan  di medsos. (YouTube KPU DKI Jakarta)
Potret Dharma Pongrekun menjawab soal AI yang disebutnya alat intelijen sebagai mata-mata yang ramai jadi perbincangan di medsos. (YouTube KPU DKI Jakarta)

Fahmi lantas menjelaskan arti AI sebenarnya yang tidak dibuat untuk memata-matai melainkan kecerdasan buatan yang diciptakan dengan tujuan untuk membantu mempermudah pekerjaan manusia.

"Jadi apa AI itu? Artificial Intelligence secara umum tidak dirancang secara inheren untuk menjadi alat mata-mata. AI adalah teknologi yang diciptakan untuk menyelesaikan berbagai tugas berdasarkan data dan algoritma, seperti pengenalan pola, pengambilan keputusan otomatis, atau pemrosesan bahasa alami," ungkap Fahmi pada cuitannya yang diunggah di akun Twitter @ismailfahmi pada hari Senin, 7 Oktober 2024.

"Penerapannya sangat bergantung pada bagaimana ia digunakan. Misalnya, AI dapat membantu di bidang kesehatan, transportasi, dan analisis data, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk pengawasan jika diterapkan tanpa pertimbangan etis dan hukum," tuturnya.

Baca Juga: Tampak Nyata, Ternyata Begini Cara 'Menghidupkan Kembali' Nike Ardilla Pakai Teknologi AI Metahuman Saat Tampil di Synchronize Festival 2024

Fahmi juga tidak membantah AI yang bisa membawa dampak negatif, tetapi perlu juga diberi pemahaman banyaknya manfaat yang didapatkan jika menerapkan teknologi secara tepat ketimbang menyebarkan teori konspirasi yang malah membuat kegaduhan.

"Intinya, AI memiliki potensi besar, baik positif maupun negatif, tergantung bagaimana teknologi ini dimanfaatkan dan diatur," kata Fahmi.

"Perspektif yang menyebut AI sebagai 'mata-mata buatan' mungkin lebih menyoroti sisi negatif potensialnya, tetapi tidak mencakup keseluruhan kapasitas dan manfaat AI," pungkasnya.

Netizen pun ikut menyoroti pernyataan Dharma Pongrekun soal AI dan tak setuju dengan pendapat cagub hingga dianggap blunder.

Asa pula yang netizen mengaku dapat manfaat dari AI dan mengingatkan penggunaannya yang bisa jadi berdampak baik maupun buruk.

AI jadi berdampak buruk itu tergantung pada instruksi dari penggunanya lantaran pada awalnya, AI tidak didedikasikan untuk melakukan perbuatan buruk.

"Setuju dengan pak Fahmi, AI itu gak lebih dari mesin pengolah data dan memproduksi kesimpulan berdasarkan data dan informasi yang dapat diperoleh di dunia maya. Namanya aplikasi pengolah data maka siapapun dapat memanfaatkan termasuk aktifitas intelijen, tapi AI ini tidak didedikasikan untuk intelijen atau memata-matai," komentar akun @sinchan2023.

"Sama seperti robot, AI juga melakukan perintah sesuai instruksi, misal untuk melacak sesuatu mungkin dia bisa aja lakuin, tapi ada batasan sih, bahkan untuk masalah politik krusial aja dia ga mau baha, pake aja Gemini misalnya, dia gak mau kok jelasin masalah politik, karena dianggap persoalan sensitif, paham lah harusnya ini," komentar akun @nurul_ida890.

Namun, ada pula nerizen yang menyindir dan mengungkit kembali soal pencatutan E-KTP yang dipakai pasangan Dharma-Kun mencalonkan diri sebagai pasangan cagub-cawagub independen.

"AI itu kayaknya manusia dengan otak cerdas. Sekarang mari kita tanyakan kepada AI, Siapakah yang 'mencuri ' data e-KTP warga Jakarta? terus dibilang AI mata-mata kalo jawabannya Dharma-Kun, lha wong beritanya udah viral banyak kesebar di mana-mana," komentar akun @dmsvoice.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X