Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal Sosok Fransisca Fanggidaej Nenek Reza Rahadian, Tokoh Jurnalis yang Pernah Terseret Peristiwa G30S PKI

Photo Author
Sahara Premareta, Sketsa Nusantara
- Jumat, 23 Agustus 2024 | 07:59 WIB
Fransisca Fanggidaej Nenek Reza Rahadian (X/@bonnietriyana/@selow_mas)
Fransisca Fanggidaej Nenek Reza Rahadian (X/@bonnietriyana/@selow_mas)

SketsaNusantara.id – Sosok aktor Reza Rahadian kini tengah menjadi perbincangan publik di tengah isu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal Rancangan UU Pilkada 2024.

Pasalnya, ia turut menyuarakan pendapatnya ketika mengikuti aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI pada Kamis, 22 Agustus 2024.

Reza Rahadian terlihat berdiri di atas mobil komando untuk menyampaikan kegelisahannya terkait situasi saat ini.

Baca Juga: Parah! Ratusan Orang Ditahan Polisi Usai Ikut Demo Kawal Putusan MK, YLBHI Sebut Ada yang Minta Tebusan Jutaan Rupiah Jika Ingin Bebas

Ia sudah tak bisa diam melihat acrobat politik DPR RI yang berusaha meloloskan Kaesang Pangarep, putra bungsu dari Presiden Joko Widodo agar bisa mengikuti Pilkada 2024.

Saat menyampaikan kegelisahannya, Reza Rahadian dengan lantang menyuarakan orasinya yang mengatakan ia tidak bisa duduk tenang dan memprotes sikap DPR terhadap MK dengan lantang.

Selain itu, Reza Rahadian juga mengikuti aksi Kamisan jilid 828 di depan Istana Merdeka pada hari yang sama.

Baca Juga: Kiky Saputri Akhirnya Buka Suara, Usai Dikecam Netizen karena Tak Turun ke Jalan Ikut Aksi Tolak Revisi UU Pilkada

Keberaniannya dalam berorasi ternyata datang dari neneknya yang juga merupakan seorang aktivis asal Noelmina, NTT yang juga merupakan jurnalis cendiakawan.

Ia bernama Fransisca Fanggidaej adalah tokoh jurnalis dan cendiakawan yang terpaksa tidak dapat pulang karena demi keamanan mereka pasca G30SPKI.

Dilansir dari akun X milik @bonnietriyana oleh SketsaNusantara.id, Ia bersama kompatriotnya yakni Ibrahim Isa, sekjen Organisasi Internasional Setiakawan Rakyat Asia-Afrika(OISRA) kehilangan kewarganegaraannya karena memilih pro-Soekarno.

Baca Juga: Parah! Ratusan Orang Ditahan Polisi Usai Ikut Demo Kawal Putusan MK, YLBHI Sebut Ada yang Minta Tebusan Jutaan Rupiah Jika Ingin Bebas

Ia juga pernah terlibat pada penyelenggaraan Konferensi Triokontinental awal 1966 sebagai kelanjutan KAA 1955 bersama Fidel Castro.

Mereka tidak diakui sebagai delegasi Indonesia karena pemerintah Jakarta berpindah ke tangan Soeharto. Keduanya wafat sebagai eksil di Belanda.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: X @bonnietriyana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X