Baca Juga: Gaungkan Informasi Pilkada 2024, KPU Jawa Timur Gandeng Organisasi Kepemudaan
Dengan demikian, pihak Sekolah Kristen Petra tidak membayar iuran kepada RW dan usulan ini disambut baik oleh ketua RW setempat untuk menghindari fitnah.
Pengurus Sekolah Kristen Petra pun menyanggupi titik tengah dan berusaha melakukan cara untuk mengatasi kemacetan di sekitar bangunan sekolah.
"Bangunan sekolah Petra ini kan sebenarnya tidak dalam RW sini, dari tahun 70-an ya aman-aman saja, tapi warga kena imbas sekarang ini karena semakin lama sekolah ini kan peminatnya banyak akhirnya jadi macet," kata Eri.
"Dari perbincangan ini tadi RW juga terbuka agar tidak ada fitnah maka soal iuran tidak lagi dititipkan ke RW dan Petra sendiri juga luar biasa mau menyelesaikan masalah fasum (fasilitas umum) yang menjadi tanggung jawab sekolah, misal eceng gondok dan masalah kemacetan yang awalnya ditangani warga sekarang jadi tanggung jawab Petra," tuturnya.
Lebih lanjut, Eri meminta maaf dan menyayangkan perkara ini sampai jadi viral, dan menyebut ada ulah beberapa pihak yang ikut memanaskan situasi hingga masalah ini santer dibicarakan warganet di media sosial hingga saat ini.
"Saya minta maaf sekali sebetulnya masalah ini ingin diselesaikan tanpa ada keributan, tapi ada pihak yang ikut masuk 'menggoreng' informasi sehingga menimbulkan kegaduhan," kata Eri.
"Ada yang bilang penarikan iuran ini pungli atau apa padahal warga dan petra sendiri juga tidak bilang begitu, dan sebetulnya masalah ini juga bisa diselesaikan dengan cepat, tapi alhamdulillah semua masalah akhirnya sudah selesai," tutupnya.
Baik pihak Petra dan RW setempat pun sepakat berdamai dan perselisihan soal iuran tak lagi menjadi polemik di wilayah tersebut.
"Kami berterima kasih Pak Walikota mau datang ke rumah kami bicara sama-sama, senang saya akhirnya bisa meluruskan masalah supaya tidak jadi fitnah, banyak berita simpang siur jadi makin runyam, saya jadi terkenal gara-gara pungli, jadi sekarang sudah kita serahkan semua (ke Petra)," kata Lulu LiLi Adjufri selaku Ketua RW IV Manyar Sabrangan.
"Kami dari pihak Petra akan melakukan CSR untuk mengatasi kemacetan, kalaupun ada kemacetan pun akan lebih cepat terurai, lalu kami juga akan bekerja sama dengan dishub terkait masalah kemacetan ini agar tak lagi menimbulkan masalah bagi warga sekitar sekolah," kata Robertus Prananta selaku Wakil Direktur Sarpras dari Sekolah Kristen Petra.
"Jadi ini sudah clear, pihak sekolah tidak (membayar) titip iuran ke RW lagi dan yang penting sudah ada niatan dari Petra untuk mengatasi kemacetan, warga sini juga sudah sepakat, bagaimana agar lingkungan bersih, bebas macet, dan satu sama lain bisa saling melengkapi, selesai sudah masalahnya," pungkas Eri Cahyadi.***
Artikel Terkait
Inilah Sosok Renti Marningsih yang Jadi Korban Tabrak Maut Mahasiswi yang Baru Pulang Dugem dari Club, Sifatnya Dibeberkan Sang Putri...
Berdandan ala Santri, Kaesang Kunjungi Cak Imin di Kantor PKB, Netizen: Partai Sarung Indonesia?
Tak Ada Dendam Pribadi, 2 Kegagalan Jokowi ini Dinilai Jadi Pemicu Kritik Megawati, Salah Satunya Tidak Pro Wong Cilik
Profil Fransiska Sari, Waria yang Hina Wanita Berkerudung saat Live TikTok, Sahabat Nora dan Jerinx SID?
Ngeri, Detik-Detik Rumah 3 Lantai di Margahayu Bandung Ambruk hingga Rata dengan Tanah, Disdamkar Update Kondisi Terbaru, Ada Korban Jiwa?
Apa TikTok Fransiska Sari alias Siska? Ini Nama Instagram Waria yang Hina Wanita Berkerudung hingga Channel YouTubenya