Senin, 22 Juni 2026

Inspiratif, Alumnus SMK Jurusan Sekretaris di Jombang Ini Jadi Produsen Alsintan

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 21:35 WIB
Misbachul Munir (kiri) bersama karyawan menunjukkan mesin konveyor perontok jagung hasil produksinya. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Misbachul Munir (kiri) bersama karyawan menunjukkan mesin konveyor perontok jagung hasil produksinya. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

“Akhirnya saya menawarkan pemasaran melalui facebook. Waktu itu media sosial yang ada hanya facebook,” kata dia.

Tawaran tersebut disambut baik. Munir bercerita, selama menggunakan facebook dalam hal pemasaran, produksi bertambah seiring bertambahnya pelanggan baru.

Keadaan berubah drastis karena pemilik produksi alsintan tempat Munir bekerja meninggal dunia di tahun 2021. Tempat yang semula menjadi tumpuan hidup tidak bisa melanjutkan produksi. Praktis, ia lantas berhenti bekerja. Munir mengatakan, berhentinya produksi karena keluarga pemilik tidak ada yang melanjutkan usaha tersebut.

“Selama ini segalanya memang dilakukan oleh juragan sendiri. Terutama pekerjaan penting seperti keuangan,” ungkapnya.

Tidak ada pilihan lain, dengan bekal yang ia miliki ia lantas mendirikan sendiri. Halaman samping rumah Munir disulap menjadi gudang produksi alsintan berukuran 5 x 30 meter.

Baca Juga: Refly Harun Bongkar Titik Rawan MBG, Sebut Desain Program Bisa Membuka Celah Korupsi Sejak Awal Pelaksanaan

Munir mengaku, 3 rekannya bagian produksi di tempat kerja lama ia usung untuk bekerja di tempatnya.

Mengenai barang yang diproduksi, sambung Munir, hanya meneruskan orderan di tempat kerja sebelumnya. “Saat juragan meninggal, pemesanan masih banyak yang belum diselesaikan. Jadi sebagian saya teruskan pengerjaannya,” kenang dia.

Harga alsintan yang diproduksi bervariasi. “Kalau mesin perontok jagung ukuran kecil saya jual dengan harga Rp15 juta. Sedangkan yang ukuran besar itu sudah konveyor harganya Rp65 juta,” sebut dia.

Spesifikasi untuk mesin kecil yakni roda 2 dengan ukuran diesel 8 PK (Paardenkracht). Sedangkan mesin besar memiliki 4 roda dan ukuran diesel 30 PK. “Waktu pengerjaan kedua mesin itu juga berbeda. Kalau mesin kecil butuh waktu dua minggu, dan yang mesin besar satu bulan,” kata dia.

Ia menambahkan, untuk mesin perontok padi dijual dengan harga Rp38 juta dengan spesifikasi 4 roda. Sedangkan 2 roda harga yang dibanderol Rp10 juta.

Baca Juga: 10 Ucapan Selamat Hari Bhayangkara tahun 2026, Kalimat Penuh Makna untuk Polisi Republik Indonesia! Share di 1 Juli Nanti

Mesin-mesin yang ia produksi tersebut biasanya ada contohnya. “Pemesan terkadang memberi contoh untuk bisa dikerjakan apa tidak. Tapi selama ini contoh-contoh tersebut selalu bisa saya kerjakan,” terang dia.

Peran BRI

Memiliki keahlian dan jaringan tanpa dukungan permodalan tidak berarti apa-apa bagi usaha yang dijalankan Munir. Dirinya mengaku, waktu membuka bengkel produksi alsintan, ia punya modal sebesar Rp17 juta. Modal tersebut hanya cukup digunakan untuk biaya peningkatan daya listrik 5.500 kWh.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X