SketsaNusantara.id - Presiden Prabowo Subianto menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu agenda prioritas pemerintahannya. Berbagai kebijakan strategis tengah disiapkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor yang selama ini masih cukup tinggi.
Pemerintah menilai ketahanan energi memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Selain berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, sektor energi juga berpengaruh langsung terhadap aktivitas industri dan pertumbuhan ekonomi.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengatakan Presiden Prabowo sejak awal menekankan pentingnya kemandirian pada sektor-sektor vital.
Baca Juga: 10 Homeless Media Bantah Jadi Mitra Pemerintah usai Pernyataan Bakom RI Viral di Media Sosial
"Bangsa ini harus mandiri. Bangsa ini harus maju. Lepas dari ketergantungan pangan, lepas dari ketergantungan energi. Itu semua adalah cita-cita dan usaha besar Pak Prabowo," ujar Qodari dalam keterangannya, 14 Juni 2026.
Menurut Qodari, pemerintah sebelumnya telah menunjukkan sejumlah perkembangan pada sektor pangan. Peningkatan produksi beras dan ketersediaan pupuk menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Setelah sektor pangan menunjukkan perkembangan positif, perhatian pemerintah kini diarahkan ke sektor energi. Namun, tantangan yang dihadapi dinilai lebih besar karena tingginya kebutuhan impor minyak.
Baca Juga: Daftar 35 Homeless Media Versi Bakom RI Picu Polemik, Narasi sampai Ngomongin Uang Ramai Membantah
Qodari menjelaskan kebutuhan energi nasional saat ini masih jauh melampaui kapasitas produksi dalam negeri. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.
Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, kebutuhan minyak mencapai sekitar 1,6 juta per hari. Sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 600 ribu per hari.
Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap perubahan harga minyak dunia. Ketika terjadi gejolak geopolitik internasional, dampaknya dapat memengaruhi biaya energi di dalam negeri.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, pemerintah mendorong pemanfaatan sumber daya domestik untuk menghasilkan energi alternatif. Salah satu program yang tengah disiapkan adalah Biodiesel B50.
Program tersebut memanfaatkan minyak sawit sebagai campuran bahan bakar solar hingga mencapai 50 persen. Pemerintah berharap langkah ini dapat membantu mengurangi kebutuhan impor energi secara bertahap.
Selain Biodiesel B50, pemerintah juga mengembangkan Etanol E20. Program ini menggunakan bahan bakar berbasis nabati yang dicampurkan ke dalam bensin.
Artikel Terkait
Momen Prabowo di RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Sapa Bayi yang Berobat hingga Doakan Pasien di Tengah Kunjungan Resmi
Prabowo Beberkan Program Besar Kesehatan Nasional, Renovasi Ratusan Rumah Sakit hingga Distribusi 1.000 Alat Medis Modern
Ramai Disorot, Konten Kreator Ini Protes Usai Videonya Dipakai Tanpa Izin untuk Footage Pidato Prabowo, Warganet Soroti Dugaan Pelanggaran Hak Cipta
Prabowo Dorong 100 Sekolah Nasional Terintegrasi, Model Sekolah Unggul Non-Asrama Mulai Dibangun Tahun Ini
Gejayan Kembali Jadi Pusat Perlawanan Sipil, Mahasiswa dan Berbagai Kelompok Siapkan Aksi Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran