Sabtu, 13 Juni 2026

Gejayan Kembali Jadi Pusat Perlawanan Sipil, Mahasiswa dan Berbagai Kelompok Siapkan Aksi Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi demo di Gejayan, Yogyakarta, 13 Juni 2026. (Freepik)
Ilustrasi demo di Gejayan, Yogyakarta, 13 Juni 2026. (Freepik)

SketsaNusantara.id - Pertigaan Gejayan di Yogyakarta kembali menjadi titik perhatian publik. Kawasan yang memiliki sejarah panjang sebagai ruang gerakan masyarakat sipil itu akan menjadi lokasi demonstrasi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Aksi tersebut diarahkan untuk menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Berbagai isu ekonomi, pendidikan, hingga kebebasan sipil menjadi bagian dari tuntutan yang akan disuarakan massa.

Baca Juga: 7 Fakta Bundaran HI, Ikon Jakarta yang Sempat Jadi Titik Aksi Demo BEM UI pada 12 Juni 2026, Ternyata Gagasan Bung Karno

Tidak hanya mahasiswa, aksi juga melibatkan jaringan masyarakat sipil dari berbagai latar belakang. Sejumlah kelompok menyatakan telah melakukan konsolidasi beberapa hari sebelum demonstrasi berlangsung.

Gejayan sendiri memiliki tempat khusus dalam sejarah gerakan sosial di Yogyakarta. Sejak era Reformasi 1998, kawasan tersebut kerap menjadi lokasi berkumpulnya berbagai kelompok masyarakat yang menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.

Tradisi itu terus berlanjut melalui berbagai aksi yang dikenal dengan nama Gejayan Memanggil. Pada tahun ini, aksi digelar oleh kelompok bernama Aliansi Rakyat Memanggil yang memiliki karakter serupa dengan gerakan sebelumnya.

Baca Juga: Kenapa Dilarang? BEM UI Ungkap Alasan Ingin Lakukan Aksi Demo di Bundaran HI, Singgung Presiden Mengelak Kritik saat Ekonomi Tak Baik-Baik Saja

Selain menyampaikan orasi politik, massa juga berencana menggelar berbagai kegiatan lain. Beberapa di antaranya berupa pertunjukan teatrikal dan pembacaan puisi di lokasi aksi.

Aliansi Rakyat Memanggil terdiri dari berbagai kelompok yang bergabung tanpa struktur organisasi formal. Konsolidasi dilakukan secara terbuka di sejumlah titik untuk mempersiapkan jalannya demonstrasi.

Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Mesa, menjelaskan bahwa mahasiswa dari berbagai fakultas telah mengadakan pertemuan menjelang aksi. Salah satu konsolidasi dilakukan di kawasan kantin Fakultas Filsafat UGM yang dikenal sebagai Bonbin UGM.

Menurut Mesa, sekitar seratus mahasiswa menghadiri pembahasan teknis demonstrasi tersebut. Mereka berencana berjalan kaki dari Bundaran UGM menuju pertigaan Gejayan yang berjarak sekitar tiga kilometer.

Dalam aksi itu, Aliansi Rakyat Memanggil membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Salah satu tuntutan yang menjadi perhatian adalah penghentian program makan bergizi gratis yang dinilai memiliki kerawanan dalam pelaksanaannya.

Selain itu, mereka juga menyoroti program koperasi desa merah putih. Massa aksi menilai program tersebut perlu dievaluasi karena dianggap tidak sejalan dengan prinsip ekonomi rakyat yang mereka suarakan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X