Minggu, 28 Juni 2026

Habib Jafar Sentil 'Ulama Buruk' di Tengah Sorotan Kasus Pelecehan Santriwati di Ponpes Pati, Unggahan Dalil tentang Pendusta Agama Jadi Sorotan

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 6 Mei 2026 | 15:30 WIB
Potret Habib Jafar singgung soal  (Instagram/husein_hadar)
Potret Habib Jafar singgung soal (Instagram/husein_hadar)

"Kiai Dahlan ingin muridnya memahami dan mengamalkannya dengan baik. Karena itu, di kalangan Muhammadiyah kemudian dikenal Teologi Al-Ma'un yang membawa organisasi ini menjadi organisasi Islam yang fokus pada isu sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan," tuturnya.

Habib Jafar pun menyindir ulama yang justru tidak mengamalkan dengan baik tafsir Surat Al-Ma'un dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perbuatannya sangat bertolak belakang dari ajaran agama.

"Bukannya jadi pribadi Al-Ma'un, malah ada kiai yang al-mal'un (terlaknat) dengan mencabuli santriwatinya yang yatim di pesantren," ujarnya.

Baca Juga: Dugaan Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Mencuat, Nama Oki Setiana Dewi Jadi Sorotan

"Maka sabda Nabi Muhammad, ada yang Beliau SAW lebih khawatirkan dari Dajjal, yaitu ulama su' (ulama buruk)," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, kasus pelecehan santriwati di Kabupaten Pati ini menyita perhatian publik. Telebih, besar korban masih di bawah umur dan sebagian di antaranya adalah anak-anak yatim, piatu, atau berasal dari keluarga kurang mampu.

Laporan dari kuasa hukum dan pendamping menyebutkan banyaknya korban diperkirakan mencapai 50 santriwati. Korban mengalami tekanan psikologis dalam jangka waktu panjang, bahkan mengaku diancam sehigga tidak berani melaporkan kasus ini ke polisi.

Pelaku bahkan disebut-sebut menggunakan doktrin menyesatkan untuk memperdaya korbannya, seperti mengklaim dirinya sebagai sosok "Khariqul 'Adah" (wali dengan kemampuan di luar akal manusia) atau keturunan Nabi yang harus dimuliakan.

Baca Juga: Geram Oknum Kiai Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Pati Tak Kunjung Ditangkap, Hotman Paris Sentil Kapolres hingga Kapolda

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa terduga pelaku sebenarnya pernah dilaporkan atas kasus serupa pada tahun 2024. Namun saat itu, penyelesaian kasus dilakukan secara kekeluargaan.

Kasus ini kembali mencuat dengan skala yang lebih besar pada 2026, hingga akhirnya memicu gelombang protes dari masyarakat.

Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi) sempat mendatangi kediaman terduga pelaku untuk menuntut keadilan.

Dampak dari kasus ini, operasional pesantren dilaporkan telah dibekukan sementara. Ratusan santri juga telah dipulangkan ke rumah masing-masing dan dipindahkan ke sekolah lain.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Instagram @husein_hadar

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X