SketsaNusantara.id - Sebuah gedung lama di Kota Metro kembali menjadi perhatian. Shopping Center yang selama ini dikenal mati suri kini mulai digerakkan kembali oleh anak muda dan komunitas kreatif.
Bangunan yang telah berdiri sejak 1980 tersebut sempat menjadi pusat aktivitas perdagangan. Namun, berbagai dinamika membuat fungsinya perlahan menurun hingga akhirnya kehilangan aktivitas.
Upaya menghidupkan kembali ruang tersebut kini mulai dilakukan. Kelompok Keilmuan Desain dan Budaya Visual Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sumatera menggelar workshop bertajuk “Ace of Space: Activating Space, Empoworing Idea” pada Sabtu 25 April 2026.
Kegiatan ini melibatkan komunitas kreatif di Kota Metro. Tujuannya adalah menggali ide dan membuka peluang pemanfaatan ruang yang selama ini tidak digunakan.
Shopping Center Metro mengalami penurunan aktivitas selama puluhan tahun. Kondisi ini semakin memburuk setelah pandemi Covid-19 yang berdampak pada perubahan pola transaksi masyarakat.
Aktivitas jual beli konvensional menurun drastis. Banyak los yang kosong, bahkan dalam kondisi rusak dan berdebu karena tidak lagi digunakan.
Di tengah kondisi tersebut, muncul inisiatif dari komunitas kreatif. Mereka melihat potensi gedung tersebut untuk dijadikan ruang aktivitas seni dan kreatif.
Keinginan ini didukung oleh Paguyuban Pedagang Shopping Center. Mereka membuka peluang kerja sama dengan komunitas untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.
Komunitas diberi kesempatan menggunakan los sebagai ruang berkegiatan. Hal ini menjadi langkah awal untuk membangun kembali aktivitas di lokasi tersebut.
Melihat potensi tersebut, tim dari DKV ITERA turun langsung untuk membantu proses penggagasan ide. Kegiatan ini juga didukung oleh Indonesia Creative Cities Network Lampung.
Jejen Jaelani sebagai pemantik diskusi menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem kreatif. Ia menyebut bahwa kerja sama antara komunitas dan pedagang menjadi faktor utama.
“Setidaknya komunitas seni di Metro sudah memiliki tiga pilar kreatifitas yakni domain; bidang keahlian yang diberdayakan yakni sebagai besar seni rupa dan desain. Selanjutnya ranah; tempat dimana para domain ini bermukim. Di Metro, shopping center ini tentunya, yang sedang berupaya kita berdayakan lagi. Kemudian, orang sebagai penggerak dari domain. Tentu kawan-kawan pegiat kesenian yang hadir disni, diantaranya,”tekan Jejen Jaelani.
Artikel Terkait
Kolaborasi Promedia Group dan ICCN Resmi Dimulai, Targetkan Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif di Seluruh Indonesia
ICCN Luncurkan Buku Retrospektif Kota Kreatif Indonesia, Kolaborasi Lebih dari 50 Penulis Rekam Perjalanan Kota Kreatif dari Yogyakarta hingga Blitar
ICCN Buka Pendaftaran IP Kreatif 2026, Dari Ide hingga Produk Siap Komersial Bisa Ikut Program Kolaborasi
Film Pelangi di Mars Tayang Hari Ini 18 Maret 2026, ICCN Ajak Publik Dukung Karya Animasi Anak Bangsa di Bioskop