Kamis, 4 Juni 2026

Luka yang Belum Sembuh di Aceh Tamiang: Saat Hujan Turun, Warga Masih Berlarian ke Masjid demi Rasa Aman

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 16 Februari 2026 | 19:00 WIB
Menyoroti kabar terkini para pengungsi banjir bandang di Aceh Tamiang yang disebut masih dibayangi trauma atas bencana yang pernah melanda. (Instagram.com/@masjidnurulashri)
Menyoroti kabar terkini para pengungsi banjir bandang di Aceh Tamiang yang disebut masih dibayangi trauma atas bencana yang pernah melanda. (Instagram.com/@masjidnurulashri)

SketsaNusantara.id - Hampir tiga bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tamiang.

Namun, trauma mendalam masih membekas kuat di benak para penyintas. Ketakutan kembali muncul setiap kali hujan turun di wilayah tersebut.

Bencana yang terjadi pada akhir November 2025 itu menelan ribuan korban jiwa dan memicu kerusakan besar di sejumlah pedesaan.

Baca Juga: Video Hari Pertama Usai Banjir Bandang Aceh Tamiang Viral, Jalan Jadi Lautan Lumpur, Ratusan Rumah Hancur, Ribuan Keluarga Terdampak

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Aceh Tamiang, tetapi juga menjalar ke beberapa wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Kini, luka batin para korban belum sepenuhnya pulih. Trauma itu tergambar jelas dalam keseharian para pengungsi yang masih berlarian menuju masjid setiap hujan mulai turun. Mereka mencari tempat aman demi menghindari kemungkinan bencana susulan.

Dalam unggahan akun Instagram @masjidnurulashri pada Senin, 16 Februari 2026, kondisi ini terekam jelas. Warga setempat dilaporkan bergegas mengungsi sebagai bentuk perlindungan diri dari rasa takut yang terus menghantui.

Baca Juga: Dukung Pemulihan Pasca Bencana Sumatra, BRI Kerahkan Puluhan Relawan Bersihkan Sekolah di Aceh Tamiang

“Di Aceh Tamiang, jangankan berpikir makan apa esok hari, kebanyakan warga di sini kalau hujan masih lari ke masjid,” demikian tertulis dalam unggahan tersebut.

Kecemasan itu belum mereda meski intensitas hujan tidak tinggi. Banyak warga masih memilih bermalam di masjid demi merasa lebih aman. Situasi ini menggambarkan betapa dalam trauma yang mereka alami akibat bencana besar tersebut.

“Kalau hujan turun sedikit saja, warga di sini langsung was-was, masih banyak yang harus mengungsi ke masjid, numpang aman semalaman,” lanjut keterangan dalam unggahan itu.

Selain trauma, persoalan lain yang masih membebani para penyintas adalah keterbatasan akses air bersih. Berdasarkan laporan di lapangan, hingga kini warga masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar tersebut.

Pasokan air bersih belum sepenuhnya pulih setelah bencana. Banyak warga terpaksa berjalan kaki cukup jauh sambil membawa ember demi mendapatkan air untuk keperluan memasak dan bertahan hidup sehari-hari.

Dalam unggahan yang sama, disebutkan bahwa air bersih tidak dapat diperoleh dengan mudah. Warga harus menempuh jarak tertentu hanya untuk mengisi wadah air yang mereka bawa.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X