Kamis, 4 Juni 2026

Bertahan 12 Hari di Rooftop saat Banjir Bandang Aceh, Kisah Warga Kuala Simpang ini Viral dan Bikin Merinding

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 9 Februari 2026 | 22:00 WIB
Warga di Aceh Timur harus menggunakan alat berat untuk bersihkan lumpur yang mengendap di rumahnya. (Instagram/bg_dosen)
Warga di Aceh Timur harus menggunakan alat berat untuk bersihkan lumpur yang mengendap di rumahnya. (Instagram/bg_dosen)

SketsaNusantara.id - Lebih dari dua bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Namun, ingatan tentang momen menegangkan itu masih membekas di benak para penyintas. Banyak kisah perjuangan yang kini kembali muncul di media sosial.

Salah satunya datang dari Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Sebuah video yang diunggah akun Instagram @keila_dwi_putri_real pada Minggu, 8 Februari 2026, memperlihatkan bagaimana ia dan para tetangganya bertahan di rooftop rumah selama hampir dua pekan.

Baca Juga: Dukung Pemulihan Pasca Bencana Sumatra, BRI Kerahkan Puluhan Relawan Bersihkan Sekolah di Aceh Tamiang

Dalam unggahan tersebut, tampak sejumlah warga berkumpul di atap rumah dengan tenda darurat.

Sekeliling rumah terlihat terendam air. Kondisi itu menjadi saksi bagaimana mereka bertahan di tengah kepungan banjir.

Pemilik akun menceritakan bahwa ketika air mulai masuk ke rumah, ia segera berinisiatif membeli sembako. Langkah itu dilakukan sebagai persiapan menghadapi situasi darurat. Dalam perjalanan, ketinggian air bahkan telah mencapai setengah bodi mobil.

Baca Juga: Banjir Bandang Sudah Berlalu, Namun Dusun Sarah Raja Aceh Utara Masih Terputus Akses dan Butuh Bantuan Dasar

“Kami kejar-kejaran dengan kuota air yang semakin naik, nekat terus nerobos banjir walau sensor mobil terus bunyi karena yang kami pikir, saat itu kami harus sampai rumah dan nggak kebawa arus di jalan,” tuturnya.

Setibanya di rumah, barang-barang langsung dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Namun, air terus naik hingga menggenangi seluruh sudut rumah. Banyak barang akhirnya terpaksa ditinggalkan karena tidak ada lagi ruang aman.

Situasi semakin genting ketika sejumlah tetangga berdatangan untuk mencari tempat lebih aman. Mereka berkumpul di lantai atas rumah dan menuju loteng. Kondisi darurat semakin terasa karena terdapat balita dan warga lanjut usia yang sakit.

“Ke tempat yang paling tinggi, menuju loteng. Bawah, air sudah mau mencapai tangga. Banyak balita dan ada dua orang tua yang sakit. Ini barang udah mulai mengapung,” sambungnya.

Air yang terus meninggi memaksa mereka keluar menuju rooftop. Mereka bertahan semalaman tanpa tidur karena khawatir air kembali naik. Ketegangan terus terasa hingga pagi hari.

Di rooftop, mereka membangun tenda darurat. Bekal makanan dan peralatan masak seadanya dibawa untuk bertahan hidup. Selama 12 hari, mereka menetap di atap rumah menunggu banjir surut.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X