SketsaNusantara.id - Lebih dari dua bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Namun, ingatan tentang momen menegangkan itu masih membekas di benak para penyintas. Banyak kisah perjuangan yang kini kembali muncul di media sosial.
Salah satunya datang dari Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Sebuah video yang diunggah akun Instagram @keila_dwi_putri_real pada Minggu, 8 Februari 2026, memperlihatkan bagaimana ia dan para tetangganya bertahan di rooftop rumah selama hampir dua pekan.
Dalam unggahan tersebut, tampak sejumlah warga berkumpul di atap rumah dengan tenda darurat.
Sekeliling rumah terlihat terendam air. Kondisi itu menjadi saksi bagaimana mereka bertahan di tengah kepungan banjir.
Pemilik akun menceritakan bahwa ketika air mulai masuk ke rumah, ia segera berinisiatif membeli sembako. Langkah itu dilakukan sebagai persiapan menghadapi situasi darurat. Dalam perjalanan, ketinggian air bahkan telah mencapai setengah bodi mobil.
“Kami kejar-kejaran dengan kuota air yang semakin naik, nekat terus nerobos banjir walau sensor mobil terus bunyi karena yang kami pikir, saat itu kami harus sampai rumah dan nggak kebawa arus di jalan,” tuturnya.
Setibanya di rumah, barang-barang langsung dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Namun, air terus naik hingga menggenangi seluruh sudut rumah. Banyak barang akhirnya terpaksa ditinggalkan karena tidak ada lagi ruang aman.
Situasi semakin genting ketika sejumlah tetangga berdatangan untuk mencari tempat lebih aman. Mereka berkumpul di lantai atas rumah dan menuju loteng. Kondisi darurat semakin terasa karena terdapat balita dan warga lanjut usia yang sakit.
“Ke tempat yang paling tinggi, menuju loteng. Bawah, air sudah mau mencapai tangga. Banyak balita dan ada dua orang tua yang sakit. Ini barang udah mulai mengapung,” sambungnya.
Air yang terus meninggi memaksa mereka keluar menuju rooftop. Mereka bertahan semalaman tanpa tidur karena khawatir air kembali naik. Ketegangan terus terasa hingga pagi hari.
Di rooftop, mereka membangun tenda darurat. Bekal makanan dan peralatan masak seadanya dibawa untuk bertahan hidup. Selama 12 hari, mereka menetap di atap rumah menunggu banjir surut.
Artikel Terkait
Rumah Hanyut dan Sekolah Rusak, Desa Pante Kera Aceh Timur Masih Terisolir Lebih dari Sebulan
Video Viral Ungkap Warga Kampung Durian Tinggal di Kuburan Tionghoa Usai Banjir dan Longsor Aceh Tengah
Hampir 2 Bulan Usai Banjir, Dusun Lhok Pungki Aceh Utara Hilang, Hunian Warga Berubah Jadi Sungai Baru
Aceh Masih Bergulat dengan Lumpur Usah Banjir, Waktu Menuju Ramadhan Terus Berjalan
Togap MCI Masak untuk Korban Banjir Aceh Tamiang, Cerita Langsung dari Lokasi yang Masih Dipenuhi Lumpur dan Puing Rumah