SketsaNusantara.id - Peristiwa keracunan massal terjadi di Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan pada saat mengikuti acara pernikahan di sana.
Pesta pernikahan yang seharusnya terbalut dengan kebahagiaan, justru berubah menjadi sebuah petaka yang menyebabkan keracunan massal.
Dimana para tamu pesta pernikahan usai mengkonsumsi es buah yang disajikan sekitar 10 menit kemudian merasakan gejala yang sama yakni pusing, kepala berputar, mual, serta rasa pahit yang masih tetap tertinggal di dalam mulut.
Baca Juga: Puluhan Siswa SMA Negeri 2 Kudus Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis, Total Capai 97 Orang
Keracunan massal ini terjadi pada Minggu, 1 Februari 2026, tepatnya yakni di salah satu rumah warga Desa Baruh Tabing.
Pada peristiwa keracunan massal terdapat 128 orang yang dilarikan ke rumah sakit. Namun saat ini 120 orang sudah diperbolehkan pulang, sedangkan 8 orang lainnya masih harus menjalani perawatan intensif.
Pasien yang masih dirawat intensif terdiri 4 orang anak yakni Nafiya Azahra, M. Fathan Arsya, M. Zaki, dan Hanifa Rusida. Sementara 4 orang lainnya dewasa yakni Norhayah, Lisnawati, Fathul Jannah, dan Aniah.
Baca Juga: 5 Fakta Insiden Keracunan Makanan di SMAN 2 Kudus hingga Puluhan Siswa Dirawat, Diduga karena Soto Ayam pada Menu MBG
Usai kejadian tersebut, kepolisian secara bergegas menyita dan mengambil sampel untuk diujikan di Laboratorium Forensik Polda Kalimantan Selatan. Sampel juga dikirimkan ke Laboratorium Tabalong dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Banjarbaru.
Es buah tersebut diketahui berisi buah pepaya, labu putih, nanas, biji selasih, dan sirup leci. Isu yang beredar keracunan massal ini diduga kesalahan saat menambahkan biji selasih justru furadan yang ditambahkan.
Seperti yang diketahui bahwa furadan itu sendiri merupakan sebuah insektisida dan nematisida, yang pada dasarnya isinya memang mirip dengan biji selasih.
Akan tetapi pihak kepolisian belum bisa membenarkan hal itu, karena hasil uji dari sampel yang telah dikirim ke laboratorium hingga saat ini masih belum dikeluar.
Hal ini dikarenakan proses pengujian sampel di laboratorium tentu harus sesuai SOP yang sudah ada, sehingga tidak bisa langsung diujikan dan harus melewati berbagai proses administrasi.
Akan tetapi pihak kepolisian akan terus melakukan penyidikan hingga penyebab keracunan massal ini bisa terungkap, dilansir SketsaNusantara.id dari Instagram @feedgramindo.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Ferry Irwandi Diduga Sakit Usai Posting Foto Pakai Baju Pasien? Netizen: Kena Santet apa Keracunan MBG
Setelah Kasus Keracunan MBG, Pemerintah Ngebut Sertifikasi Dapur Makan Bergizi Gratis di Seluruh Indonesia
Kasus Keracunan MBG, Pemerintah Bentuk Sistem Pemantauan Rutin ala COVID-19
48 Persen Kasus Keracunan Berasal dari MBG, Data BGN dan Respons Pemerintah Tegaskan Pentingnya Pembenahan Tata Kelola Program Gizi Nasional
Keracunan Massal di Bondowoso, Siswa Dilarikan ke Puskesmas Diduga Usai Konsumsi Susu Kedelai Menu MBG
Kasus Keracunan MBG Turun Drastis, Kemenkes Kejar Target Zero Accident