Senin, 20 Juli 2026

Mengapa Muhammadiyah Menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada 18 Februari 2026? Ini Uraian Ilmiah Pakar Ilmu Falak

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 20 Januari 2026 | 14:45 WIB
Apa yang menyebabkan 1 Ramadhan versi Muhammadiyah berbeda. (Freepik/kjpargeter)
Apa yang menyebabkan 1 Ramadhan versi Muhammadiyah berbeda. (Freepik/kjpargeter)

SketsaNusantara.id - Penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian publik nasional. Perbedaan tanggal awal puasa muncul di tengah diskusi kalender hijriah global. Isu ini kembali mencuat setelah muncul kritik dari kalangan astronomi.

Pakar ilmu falak dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, memberikan penjelasan ilmiah.

Penjelasan itu dipublikasikan pada Selasa, 6 Januari 2026. Tulisan tersebut dimuat di laman Observatorium Ilmu Falak UMSU.

Baca Juga: Kapan Puasa Ramadhan 1447 Hijriah Dimulai? Cek Doa Awal Melihat Hilal Sesuai Sunnah

Penjelasan Arwin hadir sebagai respons atas polemik yang kembali mengemuka. Polemik dipicu oleh pernyataan seorang Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN. Pernyataan tersebut menyebut Kalender Hijriah Global Tunggal tidak cermat.

Menurut Arwin, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan preseden negatif di ruang publik. Terlebih, pernyataan disampaikan oleh figur berpengaruh. Karena itu, klarifikasi ilmiah dinilai perlu disampaikan kepada masyarakat luas.

Arwin menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah mengeluarkan penjelasan resmi sebelumnya. Penjelasan tersebut dikeluarkan pada 27 Muharam 1447 Hijriah. Tanggal tersebut bertepatan dengan 22 Juli 2025 Masehi.

Baca Juga: Kapan Puasa Ramadhan 2026 Dimulai? Perbedaan Hisab Muhammadiyah dan Rukyat NU Jadi Penentu Awal Ibadah Puasa

Penjelasan resmi itu kemudian dirilis ke publik pada 23 Juli 2025. Dalam dokumen tersebut dijelaskan adanya koreksi kalender. Awalnya, 1 Ramadan 1447 H tercantum pada 19 Februari 2026.

Setelah melalui kajian lanjutan, tanggal tersebut dikoreksi menjadi 18 Februari 2026. Koreksi dilakukan melalui diskusi ilmiah yang intensif. Prosesnya melibatkan ahli hisab dan pengembang perangkat lunak.

“Koreksi dilakukan setelah melalui kajian ilmiah yang mendalam dan diskusi intensif, termasuk dengan para ahli teknologi informasi dan pengembang perangkat lunak hisab,” dikutip dari Muhammadiyah.org.

Arwin mengakui dinamika internal dalam proses tersebut berlangsung panjang. Kajian tersebut menjadi bagian dari pengembangan keilmuan berkelanjutan. Muhammadiyah juga menyadari adanya perbedaan dengan Diyanet Turki.

Diyanet Turki menetapkan awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026. Perbedaan tersebut bersumber dari penerapan kriteria yang sama. Namun, terdapat perbedaan analisis terhadap wilayah geografis tertentu.

Penetapan Muhammadiyah merujuk pada parameter Kalender Hijriah Global Tunggal. Parameter tersebut mengacu pada hasil Muktamar Turki 2016. Kriterianya meliputi ketinggian hilal dan elongasi minimal.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X