“Ini kalau putus kayak mana? Astaghfirullah, jangan di tengah ini diberhentiin,” teriak perekam video.
Setelah beberapa saat, kedua guru berhasil mencapai sisi seberang sungai.
Selain tali sling, terlihat pula jembatan tali sederhana sebagai alternatif penyeberangan.
Akses tersebut menjadi satu-satunya jalur bagi warga untuk beraktivitas sehari-hari.
Tali sling itu dibuat dari kabel listrik PLN oleh masyarakat setempat.
Akses darurat tersebut digunakan warga untuk bekerja dan mengangkut hasil bumi.
Komoditas seperti kopi, cabai, durian, dan beras turut diangkut melalui jalur tersebut.
Video perjuangan guru tersebut kemudian menuai perhatian luas dari warganet.
Banyak komentar muncul memberikan dukungan terhadap perjuangan para guru.
Sejumlah warganet juga menyarankan penyediaan alat keselamatan tambahan.
Permintaan pelampung dan helm disebut penting untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Akses berbahaya ini diketahui telah berlangsung sejak pascabencana akhir 2025.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, sebelumnya menyampaikan kondisi akses tersebut ke pemerintah pusat.
Permasalahan infrastruktur dilaporkan dalam rapat bersama Presiden dan menteri terkait.
Sebelumnya, Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan juga menyeberangi sungai menggunakan tali sling.
Artikel Terkait
Malam Tahun Baru, Empati, dan Etika Kemanusiaan: Refleksi Sosial atas Duka di Sumatra dan Aceh
Teror Melanda Aktivis Greenpeace dan Influencer Isu Banjir Aceh-Sumut, Pengamat: Ini Upaya Pembungkaman...
Jadi Korban Teror, Influencer Aceh Sherly Annavita Akhirnya Bagikan Rekaman CCTV di Media Sosial: Karena Ancamannya Sudah...
Satu Bulan Pasca Banjir, Warga Aceh Tengah Bagikan Kisahnya saat Evakuasi, Mendayung Sampan Selama 4 Jam ke Takengon
4 Fakta Insiden Hanyutnya Mobil Dinas Camat di Kabupaten Aceh Lues, Kronologi, Penyebab hingga Informasi Terkait Korban